Showing posts with label Budidaya Sayur. Show all posts
Showing posts with label Budidaya Sayur. Show all posts

Wednesday, August 29, 2012

Menanam sayuran organik

Sebelum memulai bercocok tanam secara organik, perlu kiranya kita mengetahui jenis tanaman yang dapat diusahakan secara organik maupun cara atau upaya meningkatkan kesuburan tanaman.

Pada umumnya semua tanaman dapat diusahakan secara organik karena pada awalnya tanaman tumbuh secara alami tanpa ada tambahan (pemupukan) dari luar. Hanya saja, ada tanaman yang peka terhadap hama dan penyakit sehingga perlu pemeliharaan yang intensif. Selain tiu, bila bertanam secara organik diarahkan untuk bisnis, pemilihan jenis tanaman harus mempertimbangkan jenis yang laku dipasaran, misalnya bawang merah, wortel, selada, cabai dan tomat

Monday, September 12, 2011

BUDIDAYA JAGUNG MANIS

Tanaman jagung (Zea mays L.) berasal dari benua Amerika. Menurut Linnaeus dalam Warisno (1998), klasifikasi tanaman jagung adalah sebagai berikut:
Divisio : Spermathophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonena
Ordo : Graminae
Famili : Graminaceae
Subfamilia : Ponicoidae
Genus : Zea
Species : Zea mays L.
Bunga pada tanaman jagung terdiri dari bunga jantan dan bunga betina yang letaknya terpisah, sedangkan bunga betina terdapat pada tongkol jagung. Biji jagung tersusun dalam janggel adalah tongkol yang dibentuk pada bunga betina setelah terjadi pembuahan terjadi perkembangan biji 7 hari sampai 10 hari, yang pertama perkembangannya lambat.
Suhu yang dikehendaki tanaman jagung berkisar antara 21ºC – 30ºC. Akan tetapi untuk pertumbuhan yang baik tanaman jagung khususnya jagung hibrida suhu yang optimal adalah 23ºC – 27ºC. Suhu sekitar 25ºC akan mengakibatkan perkecambahan biji jagung lebih cepat dan suhu tinggi lebih dari 40ºC akan mengakibatkan kerusakan embrio sehingga tanaman tidak jadi berkecambah.
Kondisi pH yang baik untuk pertumbuhan jagung hibrida berkisar antara 5,5 – 7,0 dan pH optimal 6,8 terutama pada saat berbunga dan pengisian biji. Curah hujan yang normal untuk pertumbuhan tanaman jagung yang ideal adalah sekitar 250 mm/tahun sampai 2000 mm/tahun. Jagung hibrida akan tumbuh dengan baik di daerah yang ketinggiannya lebih dari 5000 m di atas permukaan laut. (Supapto, 1999).
Tanaman jagung sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia ataupun hewan, jagung merupakan makanan pokok kedua setelah padi, produksi jagung kini dapat dikonsumsi oleh manusia dalam bentuk penyajian, jagung merupakan salah satu bahan makanan yang mengandung hidrat arang, yang dapat digunakan untuk menggantikan (mensubtitusi) beras.
Jagung termasuk tanaman akar serabut yang terdiri dari tipe akar yaitu akar dan seminal, akar adventif dan akar udara, seminal tumbuh dari radikma dan embiro. Akar adventif disebut juga akar tunjang. Akar ini dari buku paling bawah. Sekitar 4 cm di bawah permukaan tanah. Akar udara adalah akar yang keluar dari dua atau lebih dari buku terbawah dekat permukaan tanah.
Batang jagun­g tidak bercabang, berbentuk silinder. Pada buku ruas akan muncul tunas yang berkembang menjadi tongkol. Tinggi jagung tergantung variates, umumnya berkisar 100 – 300 cm. Daun jagung memanjang dan keluar dari buku-buku batang. Jumlah daun terdiri dari 8-48 helaian tergantung varietasnya. Antara kelopak dan helaian terdapat lidah daun yang disebut Ligula, fungsi Ligula adalah mencegah air masuk ke dalam kelopak daun dan batang.
Terdapat banyak jenis jagung, seperti:
1 Jagung gigi kuda ( Zea Mays Indentata )
2 Jagung mutiara ( Zea Mays Indurata )
3. Jagung manis ( Zea Mays Saccharata )
4. Jagung berondong ( Zea Mays Everta)
5. Jagung tepung ( Zea Mays Amylaceae )
6. Jagung polong ( Zea Mays Tunicata )
7. Jagung ketan ( Zea Mays ceratina )
Pada proses tumbuh tanaman jagung dibedakan dalam dua stadia yaitu:
a. Stadia vegetatif
Pada stadia vegetatif ini melalui fase kecambah, dilanjutkan dengan fase pertumbuhan vegetatif, akar batang daun yang cepat pada akhirnya pertumbuhan vegetatif menjadi lambat sehingga dinamainya stadia generatif
b. Stadia generatif
Pada stadia ini dinamai dengan pembentukan primordia. Proses pembungaan yang mencakup peristiwa penyerbukan dan pembuahan. Penyerbukan yang terjadi pada tanaman jagung biasanya dibantu dengan angin, yaitu dengan cara menebarkan tepung sari kemudian menjatuhkan pada tangkai. Letak bunga jantan dan betina tidak berada di satu tempat. Bunga jantan pada ujung batang yang sedang berbunga, sedangkan bunga betina berada di pertengahan batang atau tongkol. Perlu dijaga kemurnian biji dari varietas yang dibudidayakan dan juga terjadinya penyerbukan silang pada tanaman jagung. Proses penyerbukan, tepung sari tidak harus menempel pada kepala putik. Karena tangkai putik dapat menyebabkan proses penyerbukan tetap berlangsung. Tangkai putik berupa rambut jagung bila ditempel tepung sari. Perkembangan dan pertumbuhan serbuk sari berlanjut. Proses pertumbuhan merupakan kelanjutan peristiwa penyerbukan dapat berlangsung selama serbuk sari menempel pada putik. Kemudian saluran-saluran tangkai putik bertemu sel telur
Syarat Tumbuh
Curah hujan yang terjadi selama bulan penanaman cukup tinggi sebesar 309 mm dan 501 mm (rata-rata 427 mm/bulan), nilai curah hujan yang cukup tinggi apabila dibandingkan dengan distribusi hujan yang ideal bagi pertumbuhan jagung yaitu 200 mm/bln (Sutoro et al., 1988) dan berpotensi menyebabkan pencucian pada unsur hara yang terdapat di tanah.
Dalam suatu langkah budidaya ada hal-hal yang perlu diperhatikan diantaranya syarat tumbuh, adapun syarat tumbuh tanaman jagung yaitu ketinggian 5-1.200 m dpl, kelembaban 80%, pH 2,3 dan suhu 15 – 20oC.
Teknik Budidaya

1. BenihPeranan benih sangat vital sebelum memulai budidaya. Benih juga merupakan biji tanaman jagung yang tumbuh menjadi tanaman muda. Tanaman muda tersebut menjadi tanaman dewasa yang dapat menghasilkan bunga dan berbuah. Mutu benih yang bersifat kualitas memegang peranan penting dan peningkatan produksi, mutu benih meliputi mutu fisik, genetik fisiologis benih. Beberapa benih jagung manis yang sudah beredar diantaranya Sweet boy merupakan hibrida, Super Sweet inbrida dari produsen terkenal Cap Kapal Terbang dan lain-lain.
2. Persiapan Lahan
Pengolahan tanah bertujuan untuk memperbaiki kondisi tanah menjadi gembur, sehingga pertumbuhan akar tanaman maksimal. Pengolahan tanah juga akan memperbaiki tekstur tanah. Adapun tahapan dari pengolahan tanaman jagung manis, yaitu:
a. Membuat bedengan dengan lebar 1 m , jarak bedengan 30 m dan panjangnya sesuai dengan lahan.
b. Penggemburan ketanah dengan kedalaman 30 – 40 cm
3. Pemupukan Organik dan Non Organik
Pemberian pupuk kandang diberikan sebelum pemasangan mulsa dan diratakan di atas tanah bedengan. Pemberian pupuk Organik SP 36, ZA, Kcl dengan perbandingan 1:1:½ berfungsi untuk penyanter tanaman vegetatif, cara pemupukan dengan meratakan di atas bedengan dengan jarak per 1 m dan diberikan 100 g.
4. Pemasangan Mulsa
Mulsa adalah plastik untuk bedengan, ada 2 warna yang berwarna perak berada di atas, sedangkan warna hitam di bawah.
Fungsi mulsa:
1 Untuk menekan tumbuhnya gulma
2 Menahan/menjaga kelembaban
3 Mencegah/mengurangi penguapan air
4 Menghemat biaya tenaga kerja dalam penyiangan
5 Memblokir pantulan untuk mengusir hama
6 Fotosintesis lewat pantulan sinar matahari
5. Pembuatan Lubang Tanaman
Pembuatan lubang Komoditas untuk tanaman jagung, jarak tanaman 40 – 30 cm., dengan bedengan yang sudah ditutupi dengan mulsa, yang sudah dilubangi. Setelah itu dilakukan penunggalan sedalam 2 – 3 cm.
6. Penanaman
Penanaman di lapangan dilakukan dengan menggunakan benih bukan biji. Sebelum penanaman benih kita semai terlebih dahulu, dengan cara:
- Biji disimpan ke pot dengan media: pupuk kandang, arang sekam, selama 7 hari;
- Beri pupuk organik;
- Setelah tumbuh 3 – 5 daun, siap ke lahan.
Penanaman dilakukan pada lubang yang sudah diberi pupuk dengan kedalaman lubang 3 cm dengan jumlah bibit per lubang tanam sebanyak 2 bibit kemudian ditutup dengan tanah. Jarak tanam yang digunakan adalah 75 cm x 25 cm.
7. Penyiraman
Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari yang bertujuan mencegah tanaman layu. Apabila musim kemarau penyiraman dilakukan setiap hari.
8. Penyiangan
Penyiangan dilakukan untuk mengendalikan gulma di sekitar tanaman yang dilakukan sebanyak 3 kali. Penyiangan pertama dilakukan pada umur 21 hst dengan cara mencabut gulma. Penyiangan ke 2 dilakukan umur 42 hst dengan menggunakan kored. Yang dimaksud penyiangan adalah membrantas atau membuang gulma bagi tanaman yang dibudidayakan. Akibatnya daun menjadi berimbang, cara pengendalian yaitu dengan mencabut rumput-rumput yang tumbuh di sekitar tanaman guna mengatasi persaingan unsur hara pada tanaman.
9 Penjarangan dan Penyulaman
Penjarangan dilakukan 7 hst dengan cara meninggalkan satu tanaman yang pertumbuhannya baik. Sedangkan penyulaman dilakukan apabila tanaman pada lubang tanam tidak ada yang tumbuh atau mati.
10. Pembumbunan
Pembumbunan dimaksudkan untuk memperkokoh berdirinya tanaman dan mendekatkan unsur hara. Pembumbunan dilakukan secara bersamaan dengan penyiangan ke 2 yaitu pada umur 42 HST.
11. Pengendalian Hama dan Penyakit
Untuk mencegah serangan hama pada awalnya pertumbuhan dan tanaman diberikan insektisida Furadan 3G pada saat tanam sebanyak 20 kg/ha (9 gr/petak) yang di berikan pada lubang tanam. Pengendalian hama selanjutnya dengan menyemprotkan insektisida decis 2,5 EC dengan konsentrasi 2 ml/liter, larutan yang diberikan pada umur 20 hst, 27 hst dan 33 hst.
Adapun penyakit yang menyerang yaitu:
? Bulai
Penyakit ini terkenal bagi tanaman jagung disebabkan oleh cendawa yang merajalela, tanaman yang terserang cenderung mengalami kematian. Penyakit ini di takuti para petani. Cara pengendaliannya; tanaman di cabut jika terserang lalu dimusnahkan atau disemprot dengan fungisida.
? Bercak Daun.
Penyakit ini ditemukan di daerah lembab, yang disebabkan oleh Cendawan
Cara pengendaliannya; mengatur kelembaban lahan agar tidak lembab, atau dengan cara menyemprotkan Pestisida.
? Karat.
Tanaman ini tumbuh di tanaman yang sudah tua, Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Pucunia songin. Akibatnya: bijinya tidak sempurna. Proses pembuahan tidak terbentuk. Cara pengendalian: melakukan sanitasi pada areal penanaman jagung, mencabut tanaman jika terserang, menyemprotkan fungisida pestisida.
12. Pemanenan
Pemanenan dilakukan pada saat tanaman berumur 60 hst yang ditandai dengan kelobot sudah bewarna kuning, bijinya sudah cukup keras dan mengkilap, apabila ditusuk dengan kedua ibu jari biji tersebut tidak berbekas, kadar air biji sekitar 25% – 30%



Sumber:
http://goalterzoko.blogspot.com

Sunday, September 11, 2011

Teknis Budidya Bawang Putih pada Dataran Rendah


Bawang putih (Allium sativum L) selain merupakan jenis sayuran yang penting, juga merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru ekonomi dalam pembangunan pertanian. Bawang putih ini dianggap sebagai komoditas potensial terutama untuk subsitusi impor dan dalam hubungannya dengan penghematan devisa. Perkembangan terakhir (2006), impor bawang putih indonesia berjumlah 295 ribu ton dengan nilai tidak kurang dari US$ 103 juta atau sebesar Rp 927 milyar, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.

Masalah yang dihadapi dalam budidaya bawang putih sampai saat ini adalah varietas bawang putih yang berkembang di indonesia umumnya memiliki potensi hasil yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan potensi hasil bawang putih di daerah subtropis. Bagitu pula tingkat pengusahaanya terbatas di daerah dataran tinggi (> 800 m dpl).
Dengan demikian dengan adanya jenis-jenis bawang putih yang cocok diusahakan di dataran rendah merupakan peluang baru dalam pembangunan pertanian khususnya untuk ekstensifikasi bawang putih dalam negeri bagi pemenuhan kebutuhan konsumsi bawang putih yang terus meningkat tiap tahunnya. Menurut data Susenas, konsumsi per kapita bawang putih penduduk indonesia mencapai 1,13 kg/tahun sehingga kebutuhan bawang putih nasional per tahun mencapai sekitar 250 ribu ton. D.I.Yogyakarta mempunyai varietas bawang putih dataran rendah yaitu Lumbu Putih.
PERSYARATAN EKOLOGIS

- Tanaman bawang putih dataran rendah tumbuh pada hampir semua jenis tanah, namun yang terbaik pada tanah bertekstur sedang(lempung sampai lempung berpasir).
- pH tanah yang cocok adalah 5,6 - 6,8 dan drainasenya baik. Walaupun umumnya bawang putih ini tahan suhu panas, namun hanya dapat tumbuh dengan baik pada daerah yang memiliki suhu yang dingin (<25` c pada bulan-bulan tertentu).
- Suhu dingin tersebut diperlukan terutama pada saat pembentukan dan pembesaran umbi tanaman. Di Indonesia, waktu tanam terbaik untuk bawang putih dataran rendah yaitu bulan Mei, Juni atau Juli.
TEKNOLOGI BUDIDAYA
- Lahan dibuat bedengan dengan lebar bedengan 1,2 - 1,75 m, dengan jarak perit antar bedengan 40 - 50 cm; sedangkan panjang bedengan disesuaikan dengan lahan yang tersedia.
- Kemudian diidtirahatkan sekitar 2 minggu, selanjutnya diolah 2 - 3 kali sehingga permukaan tanahnya cukup halus.
- Sebelum penanaman, perlu dicek pH tanahnya, jika < 5,6 perlu dilakukan pengapurandengan dosis 1,5 - 3, ton per ha.
- 2 - 3 hari sebelum tanam dilakukan pemberian pupuk dasar yaitu menggunakan pupuk kandang (10 - 15 ton/ha) atau pupuk kompos (2 ton /ha) dan SP-36 sebanyak 200 - 300kg /ha.
- Umbi bibit yang telah siseleksi (dalam bentuk siung-siung) ditanam dibedengan dengan kedalaman 1/4 - 1/2 tinggi siung bibit, kemudian ditutup dengan mulsa jerami padi setebal 3 - 5 cm.
- Pemupukan susulan dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu pada umur 15, 30 dan 45 hari setelah tanam dengan menggunakan campuran pupuk 200 kg ZA + 100kg Urea + 100 kg KCL per ha untuk setiap kali pemberian
pupuk susulan. Caranya, pupuk disebar antara barisan tanaman kemudian diikuti dengan penyiraman.
PEMELIHARAAN TANAMAN
- Penjarangan dan Penyulaman
Bawang yang ditanam kadang-kadang tidak tumbuh karena kesalahan teknis penanaman atau faktor bibit. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dalam suatu lahan ada tanaman yang tidak tumbuh sama sekali, ada yang tumbuh lalu mati, dan ada yang pertumbuhannya tidak sempurna. Jika keadaan ini dibiarkan, maka produksi yang dikehendaki tidak tercapai. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan pertumbuhan yang seragam, seminggu setelah tanam dilakukan penyulaman terhadap bibit yang tidak tumbuh atau pertumbuhannya tampak tidak sempurna. Biasanya untuk penyualaman dipersiapkan bibit yang ditanam di sekitar tanaman pokok atau disiapkan di tempat khusus. Persiapan bibit cadangan ini dilakukan bersamaan dengan penanaman tanaman pokok.
- Penyiangan
Pada penanaman bawang putih, penyiangan dan penggemburan dapat dilakukan dua kali atau lebih. Hal ini sangat tergantung pada kondisi lingkungan selama satu musim tanam. Penyiangan dan penggemburan yang pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 3-2 minggu setelah tanam. Adapun penyiangan berikutnya dilaksanakan pada umur 4-5 minggu setelah tanam. Apabila gulma masih leluasa tumbuh, perlu disiang lagi. Pada saat umbi mulai terbentuk, penyiangan dan penggemburan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak akar dan umbi baru.
- Pembubunan
Dalam penanaman bawang putih perlu dilakukan pembubunan. Pembubunan terutama dilakukan pada tepi bedengan yang seringkali longsor ketika diairi. Pembubunan sebaiknya mengambil tanah dari selokan/ parit di sekeliling bedengan, agar bedengan menjadi lebih tinggi dan parit menjadi lebih dalam sehingga drainase menjadi normal kembali. Pembubunan juga berfungsi memperbaiki struktur tanah dan akar yang keluar di permukaan tanah tertutup kembali sehingga tanaman berdiri kuat dan ukuran umbi yang dihasilkan dapat lebih besar-besar.

- Pemupukan

Pemberian pupuk dilakukan dengan 2 tahap, yaitu sebelum tanam atau bersamaan dengan penanaman sebagai pupuk dasar dan sesudah penanaman sebagai pupuk susulan. Unsur hara utama yang diperlukan dalam pemupukan adalah N, P, dan K dalam bentuk N, P2O5, dan K2O. Unsur-unsurhara lainnya dapat terpenuhi dengan pemberian pupuk kandang. Perkiraan dosis dan waktu aplikasi pemupukan Bawang putih memerlukan sulfur dalam jumlah yang cukup banyak. Unsur ini mempengaruhi rasa dan aroma khas bawang putih. Oleh sebab itu, apabila menggunakan KCl sebagai sumber kalium, maka sebagai sumber nitrogen sebaiknya menggunakan pupuk ZA. Jika sebagai sumber nitrogen digunakan Urea, maka untuk sumber kalium sebaiknya digunakan ZK. Hal ini dilakukan agar kebutuhan sulfur tetap terpenuhi. Berdasarkan kebutuhan unsur hara di atas, jumlah pupuk yang akan digunakan dapat dihitung berdasarkan jenis dan kandungan unsur haranya. Aplikasi pemupukan dilakukan dengan mebenamkan pupuk di dalam larikan disamping barisan tanaman seperti cara memberikan pupuk dasar. Penggunaan pupuk anorganik ini dapat diimbangi dengan pemberian pupuk organik maupun kompos yang diseseuaikan dengan kebutuhan
tanaman.
- Pengairan dan Penyiraman

Pemberian air dapat dilakukan dengan menggunakan gembor atau dengan menggenangi saluran air di sekitar bedengan. Cara yang terakhir dinamakan sistem leb. Penyiraman dengan gembor, untuk bawang yang baru ditanam, diusahakan lubang gembornya kecil agar air yang keluar juga kecil sehingga tidak merusak tanah di sekitar bibit. Jika air yang keluar besar, maka posisi benih dapat berubah, bahkan dapat mengeluarkannya dari dalam tanah. Pada awal penanaman, penyiraman dilakukan setiap hari. Setelah tanaman tumbuh baik, frekuensi pemberian air dijarangkan, menjadi seminggu sekali. Pemberian air dihentikan pada saat tanaman sudah tua atau menjelang panen, kira-kira berumur 3 bulan sesudah tanam atau pada saat daun tanaman sudah mulai menguning.
PANEN

- Ciri dan Umur Panen
Bawang putih yang akan dipanen harus mencapai cukup umur. Tergantung pada varietas dan daerah, umur panen yang biasa dijadikan pedoman adalah antara 90 120 hari. Ciri bawang putih yang siap panen adalah sekitar 50 prosen daun telah menguning/kering dan tangkai batang keras.
- Cara Panen
Bawang putih didaratan rendah biasanya telah siap dipanen pada umur 80 – 100 hari tergantung keadaan kesuburan tanaman dilapangan. Ciri tanaman bawang putih siap dipanen, daun tanaman 50 % telah menguning atau kering dan tangkai batangnya sudah keras. Cara panen dapat dilakukan dengan pencabutan langsung terutama pada tanah yang ringan dan pencukilan dilakukan pada tanah-tanah bertekstur agak berat. Hasil tanaman diikat sebanyak 30 tangkai tiap ikat dan dijemur selama 1 – 2 minggu.
- Periode Panen
Tanaman bawang putih dapat dipanen setelah berumur 95-125 hari untuk varietas lumbu hijau dan umur antara 85-100 hari untuk varietas lumbu kuning. Setelah pemanenan, lahan dapat ditanami kembali setelah dibiarkan selama beberapa minggu dan diolah terlebih dahulu atau dapat pula ditanami tanaman lainnya untuk melakukan rotasi tanaman.

PASCAPANEN
- Pengumpulan
Setelah dipanen dilakukan pengumpulan dengan cara mengikat batang semu bawang putih menjadi ikatan-ikatan kecil dan diletakkan di atas anyaman daun kelapa sambil dikeringkan untuk menjaga dari kerusakan dan mutunya tetap baik.
- Penyortiran dan Penggolongan
Sortasi dilakukan untuk mengelompokkan umbiumbi bawang putih menurut ukuran dan mutunya. Sebelum dilakukan penyortiran, umbi-umbi yang sudah kering dibersihkan. Akar dan daunnnya dipotong hingga hanya tersisa pangkal batang semu sepanjang ± 2 cm. Ukuran atau kriteria sortasi umbi bawang putih adalah :
pengemasan
a) keseragaman warna menurut jenis.
b) ketuaan/umur umbi.
c) tingkat kekeringan.
d) kekompakan susunan siung.
e) bebas hama dan penyakit.f) bentuk umbi (bulat atau lonjong).
g) ukuran besar-kecilnya umbi.

Berdasarkan ukuran umbi, bawang putih dapat dikelompokkan menjadi beberapa
kelas, yaitu :
a) kelas A: umbi yang diameternya lebih dari 4 cm.
b) kelas B: umbi yang diameternya antara 3-4 cm.
c) kelas C: umbi yang diameternya antara 2-3 cm.
d) kelas D: umbi yang kecil atau yang pecah dan rusak.
- Penyimpanan
Dalam jumlah kecil, bawang putih biasanya disimpan dengan cara digantung ikatan-ikatannyadi atas para-para. Setiap ikatan beratnya sekitar 2 kg. Para-paranya dibuat dari kayu atau bambu dan diletakkan diatas dapur. Cara seperti ini sangat menguntungkan karena setiap kali dapur dinyalakan, bawang putih terkena asap. Pengasapan merupakan cara pengawetan yang cukup baik. Dalam jumlah besar, caranya adalah disimpan di dalam gudang. Gudang yang akan digunakan harus mempunyai ventilasi agar bisa terjadi peredaran udara yang baik. Suhu ruangan yang diperlukan antara 25-30oC. Jika suhu ruangan terlalu tinggi, akan terjadi proses pertunasan yang cepat. Kelembaban ruangan yang baik adalah 60-70 prosen.
- Pengemasan dan Pengangkutan
Untuk memudahkan pengangkutan bawang putih dimasukkan ke dalam karung goni atau karung plastik dengan anyaman tertentu. Alat pengangkutan bisa bermacammacam, bisa gerobak, becak, sepeda atau kendaraan bermotor.


Sumber:
http://desaku-impianku.blogspot.com

Saturday, September 10, 2011

PROSPEK BUDIDAYA BAWANG DAUN

Para penjual martabak telur, sering memajang bawang daun utuh yang sudah dibersihkan dan dipotong rapi di etalasenya. Selain memajang telur bebek dan kaleng minyak samin. Bawang daun memang merupakan campuran utama martabak telur. Bawang daun itu akan diikat kemudian diiris melintang tipis-tipis, dicampur telur bebek, diberi daging yang sudah diberi bumbu, lalu diaduk di cangkir stainless steel. Adonan tepung terigu dikembangkan secara manual di landasan marmer, hingga melebar menjadi lembaran tipis. Lembaran tepung terigu itu ditaruh di penggorengan datar yang sudah diisi minyak goreng campur minyak samin, dan sudah dipanaskan penuh. Adonan telur dengan daun bawang, dituang di atasnya, lalu lembaran "kulit martabak" itu dilipat hingga berbentuk segi empat. Jadilah martabak telur.
Selain diserap oleh tukang martabak, bawang daun juga masuk ke restoran chinese food, terutama untuk campuran bakmi, bihun dan capcai. Sebenarnya bawang daun juga diperlukan untuk berbagai masakan lain. Misalnya sup dan salad. Potensi pasar bawang daun masih cukup bagus, termasuk untuk pasar ekspor. Beberapa eksportir kita, mengirim bawang daun segar ke Singapura dan Timur Tengah, bersamaan dengan sayuran lain. Bawang daun yang sudah dipotong sekitar 5 cm. difrozen dan dikemas, dikirim ke Jepang. Pasar bawang daun di dalam negeri pun relatif stabil. Tidak seperti komoditas kentang, cabai dan tomat yang harganya sering bergejolak.
Secara rutin para petani sayuran di dataran tinggi memang selalu membudidayakan bawang daun. Baik secara monokultur, atau yang paling banyak, secara tumpangsari di sela-sela tanaman kol, caisim, petsai dan sayuran lainnya. "Pasangan bawang daun di pasar adalah seledri, wortel dan kadang-kadang juga kol serta kentang sebagai bahan sup. Meskipun tidak disengaja oleh para petani, pola penanaman bawang daun secara tumpangsari dengan kol dan sayuran lainnya, sebenarnya merupakan pengendalian hama secara alami. Hama trips yang sering mengganggu tanaman kol atau cabai, tidak akan bersedia mendekat kalau kol dan cabai itu ditanam bersamaan dengan bawang. Baik bawang merah maupun bawang daun.
Beda dengan seledri dan wortel yang biasanya ditanam secara monokultur dengan kepadatan tinggi (disemai), maka bawang daun lebih sering ditanan secara tunggal, namun ditumpangsarikan dengan komoditas lain. Sebab dengan ditanam secara tunggal, pertumbuhan tanaman akan cukup pesat. Bulb akan tumbuh padat dengan daun yang besar-besar dan kekar. Sosok bawang daun demikian inilah yang disukai oleh konsumen, terutama para koki di restoran dan hotel bintang. Yang disebut bawang daun, adalah tanaman spesies Allium dari keluarga Amarilis. Selain dikenal sebagai sayuran, spesies Allium kebanyakan malahan menjadi tanaman hias, bahkan ada pula yang dijadikan bahan obat-obatan. Spesies bawang yang lebih dikenal masyarakat, justru bukan bawang daun melainkan bawang putih (Allium sativum), bawang bombai (Allium cepa), dan bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum).
Di Indonesia, bawang daun yang lebih banyak dibudidayakan adalah bawang bakung, bawang onclang, (Allium fistulosum), scallion, green onion, bunching onion, ciboule. Jenis bawang ini tidak membentuk umbi melainkan bulb (batang semu yang menggembung). Bulb ini merupakan pelepah daun yang berwarna putih dan saling menangkup satu sama lain. Sementara daunnya berupa buluh dengan lubang di dalamnya. Ukuran bawang bakung sekitar 40 cm. panjang dan penampang bulbnya 2,5 cm. Warna daun bawang bakung sama dengan warna daun bawang pada umumnya yakni hijau keabu-abuan. Meskipun disebut sebagai bawang daun, sebenarnya yang dikonsumsi bukan daunnya melainkan bulbnya yang gemuk dan padat. Biasanya, sebagian besar daun itu justru dibuang dan hanya disisakan yang didekat bulb.
Selain bawang bakung, jenis bawang daun lainnya adalah bawang perai. Kalau bawang bakung daunnya berongga dan membentuk buluh, maka bawang perai daunnya pipih membentuk pita dan tidak berongga. Kalau daun bawang bakung mirip dengan daun bawang merah, hanya ukurannya yang jaug lebih besar; maka daun bawang perai mirip dengan daun bawang putih. Bedanya, tanaman bawang perai membentuk bulb ukuran besar, dengan ukuran daun yang juga lebih panjang serta lebih lebar. Sama halnya dengan bawang bakung, maka bawang perai juga tidak membentuk umbi. Kadangkala masyarakat menyebut bawang perai dengan sebutan bawang belanda.
Sebenarnya ada dua varietas bawang perai, yakni leek (Allium ampeloprasum var. porrum (L.) J. Gay) dan elephant garlic (Allium ampeloprasum var. ampeloprasum). Leek kadang-kadang juga disebut sebagai Allium ampeloprasum atau Allium porrum. Hingga nama ilmiah bawang perai bisa disebut secara lengkap sebagai Allium ampeloprasum var. porrum (L.) J. Gay, bisa pula hanya disingkat Allium ampeloprasum atau Allium porrum. Di Eropa, leek alias bawang perai lebih banyak dibudidayakan. Sementara bunching onion alias bawang bakung hanyalah sebagai substitusi. Di beberapa tempat di Jawa, terutama di Jawa Timur, bawang perai juga lebih populer dibanding bawang bakung. Namun di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dll. bawang bakung lebih mudah dijumpai di pasar. Biasanya hanya para juru masak restoran dan hotel bintang sajalah yang menggunakan bawang perai.
Selain leek dan bunching onion, masyarakat ropa masih mengenal pula chive, cive atau true chive (Allium schoenoprasum). Di Eropa, yang disebut chive adalah bawang daun yang daunnya berupa buluh (berlubang) seperti daun bawang merah. Namun di Indonesia, chive maupun bawang daun yang daunnya berupa pita kecil-kecil mirip rumput (Allium odorum), sama-sama disebut bawang kucai. Kucai selain digunakan sebagai bumbu, juga banyak dimanfaatkan sebagai sayuran. Masih ada satu lagi komoditas bawang daun, yang di kalangan masyarakat sering dijumpai sebagai lalap (salad) pada lumpia. Bawang daun untuk lalap lumpia ini disebut bawang langkio (Alium tuberosum); atau garlic chives, chinese leeks, chinese chives. Bawang langkio juga berukuran kecil seperti halnya kucai, tetapi ciri khasnya adalah adanya umbi kecil yang berbentuk bulat berwarna putih.
Meskipun yang menyandang sebutan sebagai bawang daun cukup banyak, namun di Indonesia, terutama di kota-kota besar, bawang daun selalu diartikan sebagai bawang bakung, onclang atau bunching onion. Ada banyak kultivar bawang bakung, termasuk yang bulbnya berwarna kemerahan seperti Santa Clause dan Red Beard. Selain varietas baru dari impor yang berasal dari Taiwan, kultivar lokal pun masih banyak dibudidayakan masyarakat. Kultivar lokal umumnya berdaun panjang sementara bulbnya pendek dan kecil. Kultivar ini tetap disukai konsumen di pasar tradisional, karena masyarakat lapis bawah umumnya lebih senang memanfaatkan daunnya dan bukan bulbnya. Sementara kultivar baru kebanyakan bercirikan tanaman yang pendek dan kekar, namun dengan bulb yang berukuran besar. Misalnya Shimonita, Yoshima dan White Lisbon.
Bawang bakung bisa diperbanyak dengan biji. Bunga yang kemudian berubah menjadi biji ini, tumbuh pada ujung daun paling dalam. Bunga berwarna putih, kadang agak kehijauan. Budidaya bawang bakung dengan benih biji, memerlukan waktu panen lebih lama dibanding dengan benih anakan. Namun hasil budidaya dengan benih biji, terlebih benih asal impor, kualitasnya jauh lebih baik dibanding dengan perbanyakan melalui anakan. Para petani kita, juga banyak yang membenihkan bawang daun dari biji hasil panen mereka sendiri. Benih biji hasil perbanyakan sendiri ini, kualitasnya akan menurun. Sekarang juga banyak benih bawang bakung hibrida, yang merupakan hasil silangan antara Allium fistulosum dengan Allium cepa. Selain untuk memperoleh kualitas fisik lebih baik, bawang daun hibrida ini juga diharapkan bisa lebih toleran terhadap suhu dingin maupun panas.
Namun bawang bakung hibrida, umumnya tidak menghasilkan biji (mandul). Hingga perbanyakan harus dilakukan dengan anakan yang keluar dari samping bulb. Para petani tradisional, punya trik untuk memproduksi anakan. Caranya, hasil panen bawang bakung mereka sisihkan, untuk ditanam kembali di lahan yang sengaja dikeringkan. Dalam kondisi stres, bawang daun ini akan memecah dirinya menjadi beberapa individu, bisa empat sampai lima anakan sekaligus. Sebab kalau menunggu keluarnya anakan dari samping bulb utama, akan memakan waktu lama, selain jumlahnya juga tidak akan banyak. Terlebih lagi, untuk mengejar besarnya bulb, petani akan memberi pupuk dan pengairan dosis tinggi. dalam kondisi demikian, tanaman cenderug akan memperbesar bulb, sementara anakannya hampir tidak ada. Dengan memberi perlakuan stres air, maka bulb yang gemuk itu akan pecah menjadi beberapa tanaman.
Pecahan bulb inilah kemudian yang dibudidayakan secara individu dan monokultur atau ditumpangsarikan dengan tanaman lain. Tanaman yang akan dipanen untuk produk konsumsi ini diberi pupuk dosis tinggi. Kalau satu individu tanaman pecah menjadi lima, maka dari benih satu ton akan dihasilkan minimal 5 ton. Namun hasil penanaman dengan benih anakan ini, lambat laun juga akan menimbulkan degradasi. Kualitas bahkan juga kuantitas hasil panen akan cenderung menurun. Hingga benih dari biji, terutama benih-benih hibrida, memang harus selalu dibeli dari perusahaan penangkaran benih. Meskipun benih ini harganya tinggi, namun akan menghasilkan kualitas dan kuantitas hasil penen yang juga tinggi. Perusahaan agribisnis yang memasok restoran dan hotel bintang, umumnya tetap menggunakan benih kualitas baik, agar produk mereka tetap bisa diterima pasar khusus tersebut.


Sumber:
http://foragri.blogsome.com

Friday, September 9, 2011

BUDIDAYA BAWANG BOMBAY

Bawang bombay diperkirakan berasal dari daerah Asia Tengah (Palestina) yang beriklim subtropis dan mulai menyebar ke daratan Eropa dan India. Sekitar abad ke-16 menyebar ke Benua Amerika, kira-kira bersamaan dengan awal perburuan rempah-rempah oleh bangsa Eropa ke Timur Jauh, yang akhirnya berbuntut dengan pendudukan dan penjajahan negara-negara di Asia termasuk Indonesia oleh bangsa Eropa.
1.2. Sentra Penanaman
di Indonesia, bawang bombay banyak ditemukan di daerah Tanah Karo (Sumatera Utara), percobaan penanaman di dataran tinggi Karo dengan ketinggian sekitar 2000 m dpl, memperoleh hasil sangat memuaskan. Umbi cukup besar dan pertumbuhannya baik. Bibit yang digunakan untuk penanaman didatangkan dari Belanda.
1.3. Jenis Tanaman
Bawang bombay yang disebut juga bawang timur berada dalam satu garis keturunan dengan bawang merah dengan nama ilmiah Allium cepa L. Perbedaan antara bawang merah dan bawang bombay tidak terlalu menyolok, kecuali bentuknya dan bau/aromanya.
Varietas bawang bombay yang dikenal antara lain:
a) Hari pendek
1. Yellow Granex, ciri-ciri: umbi bulat pipih kekuning-kuningan, beraroma sedang.
2. Texas Yellow, Grano, ciri-ciri: bulat gasing kekuning-kuningan, aroma sedang.
3. Grano, ciri-ciri: kekuning-kuningan agak kecoklatan, aroma sedang.
4. Red Creole, ciri-ciri: bulat pipih merah, aroma/bau tajam.
b) Hari panjang
1. Zittauer, ciri-ciri: bulat pipih kecoklatan, slit berbunga, banyak anakan.
2. Rijosbuiger "Oporto", ciri-ciri: bulat merah kekuning-kuningan, produksi sangat tinggi.
3. Ebenezer Yellow, ciri-ciri: bulat pipihkuning tua, banyak anakan.
Varietas jenis hari pendek yang sudah pernah dicoba di Indonesia dan hasilnya cukup baik antara lain: Red Creole, Burmuda Yellow, Burmuda White, Farly Grano dan Patna Early. Jenis hari panjang yang lain yang cukup terkenal di antaranya Globe Danvers, Yellow Globe, Silver King dan sebagainya. Masih banyak lagi varietas-varietas bawang bombay yang ada diantaranya adalah Exel dan White Creole yang termasuk kelompok hari pendek, kemudian Crystal Grano, San Yoaquin dan California Early Red, yang ter-masuk kelompok hari sedang.
1.4. Manfaat Tanaman
Di Indonesia tanaman bawang bombay ini kurang/tidak populer, maka penggunaannya belum banyak terungkapkan. Penggunaan utama bawang ini adalah untuk bumbu penyedap masakan dan umumnya terbatas pada jenis-jenis masakan tertentu, yaitu masakan Eropa dan Cina. Namun demikian, akhir-akhir ini penggunaan bawang bombay di Indonesia makin menyebar dan makin memasyarakat.
keatas
II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
1. Tanaman bawang bombay menyukai curah hujan yang merata sepanjang tahun.
2. Bawang bombay termasuk tanaman yang memerlukan penyinaran matahari cukup panjang, kira-kira lebih dari 4 jam/hari. Apabila terlalu pendek atau berada di tempat yang teduh/terlindung sehingga tidak cukup mendapat penyinaran matahari maka hasil produksinya rendah, rasanya agak tawar dan tidak tahan disimpan lama.
3. Bawang bombay sangat cocok di tempat yang udaranya sejuk. Suhu udara yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini antara 18-20 derajat C. Pada suhu udara yang lebih rendah antara 1-1,5 derajat C, bawang bombay masih mampu membentuk bunga.
4. Kondisi udara dengan kelembaban relatif berkisar 80-90% (cukup lembab) sangat baik untuk pertumbuhannya.
2.2. Media Tanam
1. Tanah untuk tanaman bawang bombay adalah tanah yang subur, banyak humus dan gembur. Tanah hendaknya bersifat mudah meneruskan air sehingga tidak mudah becek dan memadat.
2. Jenis tanah yang paling baik adalah tanah lempung berpasir atau lempung berdebu, yaitu tanah yang memiliki perbandingan seimbang antara fraksi liat, pasir dan debu. Tanah yang banyak mengandung pasir atau tanah alluvial dapat digunakan untuk bawang bombay. Tetapi karena tanah seperti ini sangat cepat meneruskan air, sehingga perlu diberi pupuk kandang atau bahan organik lainnya untuk meningkatkan daya simpan air dan meningkatkan kesuburannya.
3. Keasaman tanah yang paling baik adalah sedikit agak asam sampai netral, yaitu pH antara 6-6,8. Pada pH tanah kurang dari 5, garam Aluminium yang terlarut dalam tanah dapat bersifat racun yang dapat menyebabkan tanaman menjadi kerdil. Sedangkan pada pH yang terlalu tinggi, garam Mangan tidak dapat diserap tanaman bawang sehingga umbi menjadi kecil dan produksinya rendah. Apabila tanahnya terlalu masam, perlu dilakukan pengapuran terlebih dulu untuk mengurangi keasamannya.
2.3. Ketinggian Tempat
Ketinggian optimum yang cocok untuk budidaya bawang bombay adalah berada pada ± 1500
keatas
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Persiapan Pembibitan
Bibit bawang bombay sangat sulit untuk didapat. Hal ini disebabkan karena pembudidayaannya masih belum populer seperti bawang merah dan putih. Pengadaan bibit dari jenis bibit impor merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih. Tentu saja perlu dicari jenis-jenis yang sesuai dengan kondisi alam dan iklim Indonesia. Alternatif lain dapat pula mengadakan bibit sendiri, baik berupa biji maupun umbinya yang disebut sets.
3.1.2. Bibit dari Biji
Penanaman bawang bombay dapat dilakukan dengan menggunakan biji yang dipersemaikan lebih dulu. Dengan biji ini, biasanya dapat dihasilkan umbi tunggal dan merupakan cara murah karena harga bibitnya relatif murah. Akan tetapi, di iklim tropis seperti Indonesia ini bawang bombay sangat sulit berbunga dan membentuk biji. Untuk dapat berbunga dan membentuk biji, diperlukan suhu udara rata-rata ± 0,1-0 derajat C. Di dataran tinggi seperti Cipanas Jawa Barat dengan ketinggian 1.100 m dpl, pada musim tertentu yang di malam hari beberapa jenis bawang bombay dapat berbunga.
Untuk mengatasi kesulitan tersebut, ditempuh cara berikut ini. Umbi bawang bombay yang akan ditanam untuk menghasilkan biji disimpan dulu pada suhu rendah yaitu 5-10 derajat C selama kira-kira 3-4 minggu. Setelah itu, umbi tersebut ditanam di daerah yang sejuk, kemudian agar penyerbukan berjalan dengan baik maka perlu dibantu. Pembantu penyerbukan yang baik adalah serangga, misalnya lebah madu. Oleh karena itu, pemeliharaan lebah madu di daerah pembibitan bawang sangat menguntungkan.
Cara lain untuk mendapatkan biji bawang bombay adalah dengan mendatangkan dari luar negeri. Apabila membeli bibit impor di pasaran, biji yang dipilih merupakan varietas yang bersifat hari pendek alias genjah. Kemudian biji tersebut belum kadaluwarsa karena jika kadaluwarsa daya tumbuhnya sangat rendah dan bahkan dapat gagal sama sekali.
3.1.3. Bibit dari Umbi
Pertama siapkan lahan untuk membuat persemaian. Tanahnya yang benar-benar subur dan gembur. kemudian di tempat persemaian tersebut dibuat alur-alur tebar 7,5-10 cm. Jarak antar alur sekitar 30-35 cm. Kemudian bawang bombay disebarkan pada alur tersebut dengan tebaran yang sedikit agak padat. Untuk tanah yang subur dibutuhkan biji +100 kg/ha tetapi kalau kesuburan tanahnya sedang cukup dengan 75 kg/ha. Sedangkan bila tanahnya kurang subur, sebaiknya jangan menyebarkan terlalu banyak biji, cukup dengan 50 kg/ha saja. Semaian ini dibiarkan tumbuh sesuai dengan ketentuan persemaian biasa namun tidak dilakukan penjarangan semai. Hal ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan bagi berlangsungnya seleksi secara alami. Biji yang bagus dan kuat akan tumbuh dengan baik dan biji yang lemah pertumbuhannya tidak baik akan mati.
Setelah semai bawang bombay membentuk umbi muda dengan ukuran tertentu, semai dipanen untuk dipakai sebagai bibit. Ukuran umbi muda (umbi sets) ini dapat dikelompokkan dalam tiga ukuran. Yang pertama adalah kelompok umbi sets besar yang diameter umbinya sekitar 2-2,5 cm atau beratnya 6,3 gram. Kelompok kedua adalah umbi sets sedang yang diameternya 1,5-2 cm dengan berat rata-rata 1,4 gram. Yang terakhir, umbi sets berukuran kecil dengan diameter 0,5-1,5 cm dengan beratnya 0,5 gram.
Sebaiknya, umbi sets yang berukuran di atas 2,5 cm tidak digunakan untuk bibit. Umbi set yang kecil, di bawah ukuran 1,75 cm, sebaiknya juga tidak dipakai untuk bibit karena dapat menghasilkan tanaman yang produksinya rendah. Ukuran 1,75-2,5 cm adalah pilihan untuk bibit yang baik.
3.1.4. Bibit dengan Umbi Tua
Pilihan lain untuk pengadaan bibit bawang bombay adalah umbinya sendiri. Dengan menggunakan umbi ini dapat dihasilkan tanaman yang berumpun. Dapat juga menggunakan umbi samping untuk bibit. Untuk bibit, dipilih umbi dengan ukurannya sedang dan seragam dengan beratnya antara 10-25 gram. Umbi ini dapat diperoleh dengan membeli di pasaran atau dengan memproduksi sendiri. Umbi untuk bibit harus dipilih yang bermutu bagus, tidak terserang penyakit atau ada tanda-tanda terserang penyakit maupun hama. Jangan menggunakan umbi yang cacat, luka, rusak ataupun yang pecah. Pilihlah umbi yang sudah tua, tidak mengkerut, padat, menthes dan mengkilap. Di samping itu, umbi-umbi untuk bibit tersebut harus berasal dari tanaman yang dipanen sudah tua dan telah disimpan cukup lama, yaitu umbi kawak.
3.1.5. Pembuatan Media Semai
Lahan persemaian digemburkan dengan dicangkul dalam sekitar 30 cm, lalu diberi pupuk kandang atau kompos yang telah tua sehingga tanah mengandung banyak bahan organis. Kemudian dibentuk bedengan-bedengan yang lebarnya sekitar 1 meter dan tingginya 10-15 cm. Permukaan bedengan dihaluskan bongkahan-bongkahan tanahnya sampai halus benar dan diratakan. Kalau pinggiran bedengan mudah merosot atau longsor, dapat diperkuat dengan papan atau bilah-bilah bambu.
Sebaiknya bedengan persemaian dibentuk dengan arah utara-selatan untuk mendapatkan cukup banyak cahaya matahari. Sedangkan untuk melindungi semai dari air hujan, perlu dibuat peneduhnya. Peneduh dapat dibuat dari lembaran plastik untuk atapnya. Atap ini dipasang di atas kerangka peneduh, dengan tingginya dibuat 1,25 m di sebelah Timur dan 1 m di sebelah Barat. Dengan cara ini, cahaya matahari di pagi hari yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan bawang dapat masuk lebih banyak ke persemaian.
Untuk tiap bedengan dibuat tiga alur dengan jarak antar alur sekitar 25 cm dan dalamnya alur kira-kira 5 cm. Setelah siap, bedengan dibasahi dulu sampai lembab. Kemudian biji ditabur dalam alur dengan taburan agak jarang, lalu ditutup tanah halus. Untuk tiap hektar penanaman dibutuhkan kira-kira dibutuhkan 2-2,5 kg biji. dimana tiap hektarnya perlu sekitar 300 m2 bedengan persemaian.
3.1.6. Pemeliharaan Persemaian
Persemaian disiram 3 kali dalam sehari, yaitu pagi, siang dan sore hari dengan emrat atau sprayer yang halus lubangnya. Hal terpenting adalah persemaian jangan sampai kekeringan, tetapi tidak sampai becek. Agar persemaian tidak cepat kering, dapat ditutup jerami untuk mengurangi laju penguapan air dari permukaan bedengan persemaian.
Satu minggu kemudian, semai sudah mulai tumbuh. Pada saat itu persemaian dapat disiangi untuk menghilangkan rumput-rumput dan gulma lainnya. Sekitar umur 4 minggu, dapat dilakukan penjarangan semai.
3.1.7. Pemindahan Bibit
Setelah berumur 10 minggu, semai dapat dicabut dan ditanam di lahan. sebelum dicabut, bedengan disiram dulu untuk memudahkan pencabutan semai. Semai/bibit dicabut dengan hati-hati dan sebaiknya digunakan pencukil, untuk mencukil tanah berikut semainya. Pada saat tersebut, semai kira-kira berukuran sebesar pensil.
keatas
3.2. Pengolahan Media Tanam
3.2.1. Persiapan
Bagi bawang bombay, kondisi tanah yang hendak dicapai dalam pengolahan adalah tanah yang gembur, subur, tidak becek, tidak asam, bebas gulma dan sebagainya. Untuk mencapai kondisi tersebut beberapa perlakuan perlu dikemukakan, di antaranya pengapuran tanah asam kalau diperlukan.
3.2.2. Pembukaan Lahan
Pembukaan untuk budidaya bawang bombay sebaiknya sudah dilakukan sejak 2-4 minggu sebelum penanaman dan dikerjakan saat tidak ada hujan sehingga tanahnya cukup keras dan kering, agar tidak mempersulit pengerjaan dan tidak merusak struktur tanah. Lahan untuk tanaman bawang bombay ini digemburkan dulu dengan penggemburan ringan dengan cangkul, bajak atau traktor. Kemudian sekeliling lahan dibuat saluran irigasi keliling yang mengelilingi lahan. Saluran ini dalamnya sekitar 50 cm dan lebarnya 50 cm.
Kemudian, lahan digemburkan lagi agak dalam sedikit. Sambil digemburkan dalam lahan dibuat saluran melintang dan memotong lahan yang dalam dan lebarnya sekitar 40 cm. Saluran ini disebut saluran drainase. Lalu tanah bongkahan hasil cangkulan dari hasil galian saluran dibentuk bedengan, dengan parit-parit kecil di antara bedengan tersebut. Saluran drainase boleh ditiadakan, sebagai gantinya dibentuk parit-parit antar bedengan.
3.2.3. Pembentukan Bedengan
Lebar bedengan dibuat sekitar 80-100 cm dan panjangnya dapat disesuaikan dengan panjang-pendeknya lahan. Panjang bedengan antara 3-5 m. Kalau lahan agak sulit mendapatkan air, bedeng tidak perlu terlalu tinggi, cukup 15-25 cm saja. Kalau cukup banyak air atau sedikit berlebihan, bedengan perlu sedikit agak tinggi, yaitu 25-35 cm. Lalu parit-parit antar bedengan dibuat dengan lebar 35-40 cm.
keatas
3.3. Teknik Penanaman
3.3.1 Penentuan Jarak Tanam
Karena umbi bawang bombay cukup besar, jarak tanamnya sedikit lebih renggang. Batasan jarak tanam bawang bombay adalah 25-40 cm, untuk antar baris tanaman dan 10-40 cm antar tanaman dalam baris. Ada yang menggunakan jarak tanam 10 x 25 cm, 30 x 30 cm, 40 x 40 cm. Kalau bibitnya berupa semai, biasanya dipakai jarak tanam 10 x 25 cm. Tetapi jika bibitnya berupa umbi sets atau umbi tua, jarak tanamnya kira-kira 30 x 30 cm atau 40 x 40 cm. Jarak tanam terlalu rapat kurang baik, dan terlalu renggang pun tidak ekonomis.
3.3.2 Pembuatan Lubang Tanaman
Kalau dipakai bibit semai, mula-mula dibuat lubang dengan penugal yang dalamnya kira-kira 5-7,5 cm, kalau tanahnya berpasir. Tetapi jika tanahnya berupa lempung atau yang lain, kedalaman lubang sekitar 5 cm sudah cukup. Selanjutnya, bibit semai ditanamkan ke dalam lubang dengan akar tegak ke bawah dan tanah ditimbunkan ke pangkal batang sambil sedikit ditekan.
3.3.3. Cara Penanaman
Jika digunakan bibit berupa umbi atau sets, mula-mula dibuat lubang dengan penugal untuk membantu menancapkan bibit ke bedengan. Umbi bibit lalu dimasukkan ke dalam lubang, sampai kira-kira bagian bekas potongan pada umbi rata dengan permukaan tanah bedengan. Posisi umbi diusahakan tegak ke atas dengan bagian potongan berada di permukaan tanah bedengan. Jangan sampai meletakkan umbi bibit dalam posisi terbalik. Setelah itu, ditutup tanah tipis-tipis. Setelah penanaman selesai, bedengan dibasahi secukupnya sampai lembab.
Pelaksanaan penanaman bawang bombay usahakan dapat dikerjakan saat tidak ada hujan. Sebaiknya dipilih waktu pagi hari, saat matahari belum terlalu tinggi dan selagi cuaca cerah. Kalau lagi hujan atau cuaca kurang bersahabat, sebaiknya penanaman ditangguhkan dulu sampai cuaca memungkinkan untuk penanaman.
keatas
3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penyiangan
Penyiangan rumput hendaknya dikerjakan dengan hati-hati agar tidak sampai merusak perakaran bawang bombay. Sambil menyiangi sekaligus dapat dilakukan penggemburan tanah agar permukaan bedengan tidak memadat. Bedengan yang longsor atau rusak dibenahi kembali. Juga saluran dan parit-paritnya. Kalau umbi yang mulai tumbuh nampak terangkat oleh akarnya sampai muncul di permukaan, hendaknya segera dibenahi kedudukannya sehingga umbi tertutup tanah.
Biasanya, penyiangan rumput dilakukan 2 kali, yaitu saat berumur 3 minggu dan setelah berumur 6 minggu. Sering pula saat penyiangan atau penggemburan tanah dilakukan bersamaan dengan pemupukan susulan, sekaligus untuk membenamkan pupuk susulan ke dalam tanah. Jangan menggemburkan tanah selagi bedengan masih basah karena dapat memadatkan tanah. Sebaiknya dikerjakan sebelum pengairan diberikan sehingga tanah bedengan masih kering.
3.4.2. Pemupukan
Bongkahan tanah di atas bedengan dihancurkan sambil diratakan sampai halus dan merata. Kira-kira seminggu sebelum tanam, diberikan pupuk kandang/kompos yang telah tua sebanyak 10-15 ton/ha. Pupuk ini dicampurkan pada tanah bedengan sambil menggemburkan dan meratakan bedengan lagi. Dengan pemberian pupuk ini akan dapat membantu memperbaiki struktur tanah, memperbaiki daya tampung air, kesuburan dan kegemburan tanah.
Setelah itu lahan perlu dibasahi secukupnya dengan memakai emrat atau sprayer. Lalu kira-kira 2-3 hari sebelum penanaman diberi pupuk lagi yaitu pupuk buatan yang berfungsi sebagai pupuk dasar. Tanah bedengan diratakan lagi sekaligus sambil membenamkan pupuk ke dalam tanah. Selanjutnya bedengan dibasahi lagi secukupnya.
3.4.3. Pengairan
Bawang bombay banyak memerlukan air, terutama saat pembentukan umbi. Menjelang pertumbuhan tua, kebutuhan akan air makin menurun dan menjelang panen lebih baik apabila tidak diberi air. Dengan kondisi sistem perakarannya berupa akar serabut yang tidak terlalu panjang, pengairan yang diberikan harus dapat mencapai dan dapat diserap oleh perakarannya. Sementara itu, penanaman bawang bombay umumnya dilakukan pada musim kemarau yang justru tidak banyak tersedia air. Karena itu, peranan pengairan dalam budidaya bawang bombay menjadi sangat penting.
Pengairan dapat dilakukan pula dengan sistem leb, yaitu dengan menggenangi parit-parit dan saluran-saluran. Sistim ini membutuhkan banyak air yang pada saat penanaman, air akan sulit diperoleh (musim kering). Di samping itu, sistim leb dapat menyebabkan memadatnya tanah. Beberapa hal perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pengairan sistim leb adalah usahakan agar pengairan dapat mencapai sistem perakaran dan dapat diserapnya. Setelah pengairan dirasa cukup air dalam parit dan saluran perlu segera dituras/dibuang sehingga tidak menyebabkan lahan menjadi becek.
Cara lain yang lebih baik adalah dengan menyiramkan air melalui emrat/sprayer/sprinkler. Penggunaan emrat lebih cocok untuk mengairi lahan yang tidak begitu luas. Untuk lahan luas, penggunaan sprinkler lebih sesuai. Meski begitu penggunaan alat ini membutuhkan perlengkapan khusus, yaitu pompa air dan sprinkler.
Pengairan pertama dilakukan segera setelah bibit ditanam. Bedengan dibasahi secukupnya. Setelah itu, pengairan dapat dilakukan setiap dua hari sekali yang dikerjakan pagi dan sore hari. Yang perlu diperhatikan adalah tanah-tanah bedengan jangan sampai kekeringan dan juga tidak menjadi becek. Pengairan ini diberikan sampai pembentukan umbi mencapai ukuran maksimum atau sudah menjelang tua.
keatas
3.5. Hama dan Penyakit
3.5.1. Hama
Hama yang menyerang bawang bombay adalah hama bodas, penggerek daun dan lain sebagainya.
3.5.2. Penyakit
Penyakit yang menyerang bawang bombay adalah penyakit embun upas, penyakit busuk, bercak ungu dan sebagainya. Sebagai tindakan pengendalian ada yang melakukan penyemprotan tiap 7-10 hari sekali. Apabila terjadi hujan siang hari (musim kemarau), tanaman harus segera disemprot. Demikian pula jika malam harinya cuaca berembun atau hujan, maka pagi harinya segera disemprot fungisida untuk mencegah timbulnya berbagai penyakit. Selain itu, dijaga agar tanah bedengan tidak becek.
keatas
3.6. Panen
3.6.1. Ciri dan Umur panen
Umur panen bawang bombay berkisar 4-5 bulan. Jenis yang berumur panjang dapat mencapai 5 bulan, sedang yang berumur pendek biasanya kurang/sampai dari 4 bulan. Kalau tanaman digunakan untuk menghasilkan umbi untuk bibit, pemanenan dilakukan pada umur yang lebih tua daripada panen untuk umbi konsumsi.
Ciri yang dapat digunakan untuk mengamati saat panen yang baik adalah perubahan warna daun dan batang leher umbinya. Kalau ujung-ujung daun mulai menguning dan batang leher umbi sudah mengempis, berarti saat panen sudah dekat.
3.6.2. Cara Panen
Apabila 30% dari seluruh tanaman sudah mengulai daunnya, maka tanaman dapat dirobohkan untuk mempercepat menuanya umbi dan beberapa hari kemudian bawang bombay sudah dapat dipanen. Jangan dibiarkan terlalu lama karena umbi-umbi dalam tanah pada keadaan demikian dapat menurunkan mutu umbi. Jangan memanen umbi yang terlalu muda karena umbi kurang padat dan jika disimpan akan banyak susut, mudah membusuk dan berkeriput.
Cara pemanen adalah dengan cara mencabut. Apabila sulit dicabut atau daunnya mudah patah, dapat dibantu dengan membongkar bedengan. Panenlah sebelum batang benar-benar kering dan cukup liat untuk dicabut. Pemanenan sebaiknya dikerjakan saat cuaca cerah, tidak mendung apalagi hujan. Sebaiknya waktu pagi hari selagi matahari belum terik dan embun telah hilang.
Setelah dicabut, untuk sementara biarkan umbi-umbi serta batangnya tersebut disimpan di atas bedengan agar sedikit lebih kering. Onggokkan sejajar sedemikian rupa sehingga umbi-umbinya tertimbun daun-daunnya. Dengan demikian, umbi akan terhindar dan terpaan panas matahari langsung. Selanjutnya umbi dapat diangkut ke tempat pengeringan
keatas
3.7. Pascapanen
3.7.1. Penyortiran dan Penggolongan
Sebelum dijual ada baiknya jika umbi-umbi disortasi dulu. Umbi-umbi yang rusak, luka atau terkena serangan hama-penyakit dipisahkan dalam kelompok tersendiri. Tanah yang masih menempel di akar dibersihkan. Bagian batangnya dipotong kira-kira 2 cm di atas batang leher umbi. Jangan memotong terlalu pendek agar tidak mengenai umbi yang dapat menyebabkan luka dan memudahkan terkena hama atau penyakit. Kulit terluar yang sudah nampak terkelupas dibuang sehelai sehingga umbi nampak mengkilap, bersih dan cerah.
Setelah itu, umbi dikelompokan menurut besarnya, yaitu dalam kelompok berukuran besar, sedang dan kecil. Untuk pengepakan dapat digunakan karung atau wadah yang memberikan sirkulasi udara bersih dalam wadah.
3.7.2. Penyimpanan
Di para-para di atas perapian dapur atau dalam gudang dapat digunakan untuk menyimpan bawang bombay. Namun demikian, karena belum banyak petani yang menanam bawang bombay, maka untuk sementara ini mungkin hasil produksi dapat cepat terjual habis.
3.7.3. Pengeringan
Pengeringan bawang bombay dilakukan dengan cara menjemur atau dengan menggunakan pengering buatan. Usahakan agar pengeringan dapat berjalan cepat sehingga kemungkinan kerusakan karena belum kering dapat terhindarkan.
keatas
IV. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
4.1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya bawang bombay per musim tanam (5 bulan) di Jawa Timur dengan luas lahan 1 hektar pada tahun 1999.
a) Biaya produksi

1. Sewa lahan 1 ha per musim tanam
2. Bibit: 300 kg @ Rp. 7.000,-
3. Pupuk
- Pupuk kandang: 20 ton
- Urea: 267 kg @ Rp. 1.500,-
- TSP: 312,5 kg @ Rp. 1.800,-
- KCl: 200 kg @ Rp. 1.700,-
4. Obat dan pestisida
- Furadan: 20 kotak @ Rp. 31.000,-
- Insektisida lain
- Fungisida
- Herbisida
- Perekat: 2 liter @ Rp. 24.000,-
5. Tenaga kerja
- Membuat bedengan (borongan)
- Memipil bibit: 20 OH @ Rp. 10.000,-
- Tanam: 30 OH
- Penyulaman: 10 OH
- Penyiraman: 260 OH
- Pemupukan dasar: 25 OH
- Pemupukan susulan: 30 OH
- Penyemprotan: 30 OH
6. Panen dan pascapanen
- Panen: 25 OH
- Pengeringan: 20 OH
- Sortasi: 20

Sumber:
http://dimasadityaperdana.blogspot.com

Thursday, September 8, 2011

Kol atau Kubis ( Brassica oleracea )

Kol atau kubis merupakan tanaman sayur famili Brassicaceae berupa tumbuhan berbatang lunak yang dikenal sejak jaman purbakala (2500-2000 SM) dan merupakan tanaman yang dipuja dan dimuliakan masyarakat Yunani Kuno.
Mulanya kol merupakan tanaman pengganggu (gulma) yang tumbuh liar disepanjang pantai laut Tengah, di karang-karang pantai Inggris, Denmark dan pantai Barat Prancis sebelah Utara. Kol mulai ditanam di kebun-kebun Eropa kira-kira abad ke 9 dan dibawa ke Amerika oleh emigran Eropa serta ke Indonesia abad ke 16 atau 17. Pada awalnya kol ditanam untuk diambil bijinya.
1.2. Sentra Penanaman
Kol banyak ditanam di dataran tinggi dengan sentra terdapat di Dieng, Wonosobo, Tawangmangu, Kopeng, Salatiga, Bobot Sari, Purbalingga, Malang, Brastagi, Argalingga, Tosari, Cipanas, Lembang, Garut, Pengalengan dan beberapa daerah lain di Bali, Timor Timur, Nusa Tenggara Timur dan Irian Jaya, tetapi beberapa varietas dapat ditanam di dataran rendah.
1.3. Jenis Tanaman
Berdasarkan klasifikasinya, kol/kubis termasuk dalam:
a) Divisi : Spermatophyta
b) Sub Divisi : Angiospermae
c) Klas : Dicotyledonae
d) Famili : Cruciferae
e) Genus : Brassica
f) Spesies : Brassica oleracea
Dari klasifikasi ini turunlah varietas-varietas tanaman kol yang dibudidayakan, berikut ini merupakan kol varietas unggul:
1. Kubis putih (B.o. var. capitata L. f.alba DC.)
1. Kubis kepala bulat: krop bulat dan kompak, ukuran daun kecil sampai sedang, mempunyai daun luar berwarna hijau muda, memiliki teras atau hati kecil dan mempunyai batang pendek. Beberapa varietas unggul kubis putih kepala bulat:
- Globe Master: umur panen 75 hari, produksi 2-2,5 kg/tanaman
- Emerald Cross Hybrid: umur panen 45 hari, produksi 1,2 kg/tanaman
- Copenhagen Market: umur panen 72 hari, produksi 1,8-2 kg/tanaman
- K-K Cros: umur panen 58 hari, produksi 1,6 kg/tanaman
- Green Cup: umur panen 73 hari, produksi 1,5 kg/tanaman
- Ecarliana: umur panen 60 hari, produksi 1 kg/tanaman
2. Kubis kepala bulat runcing: Krop kubis berbentuk bulat dengan ujung bagian atas meruncing sehingga nampak berbentuk elips. Contoh varietas komersial:
- Early Jersey Wakefield: umur panen 63 hari, produksi 1 kg/tanaman
- Green point: umur panen 50 hari, produksi 1 kg/tanaman
3. Kubis kepala bulat datar: Krop kubis berbentuk bulat, bagian atasnya mendatar dan nampak gepeng (baca "kol gepeng", krop kurang kompak dan berongga, ukuran sedang sampai besar dan memiliki daun luar yang melengkung ke arah dalam menutupi kepala. Beberapa jenis komersial adalah:
- Premium Flat Dutch: umur panen 100 hari, produksi 4,5 kg/tanaman.
- Early Flat Dutch: umur panen 83 hari, produksi 2,4-2,7 kg/tanaman.
- O-S Cross: umur panen 80 hari, produksi 2 kg/tanaman.
- Surehead: umur panen 93 hari, produksi 3-4,5 kg/tanaman.
- Kubis 632 Spring Light: umur panen 65 hari, produksi 1,8 kg/tanaman.
- Kubis 633 Summer Autumn: umur panen 60 hari, produksi 2 kg/tanaman.
- Kubis 634 Good Season: umur panen 45 hari, produksi 1,8 kg/tanaman.
- Kubis 635 Summer Summit: umur panen 50 hari, produksi 2 kg/tanaman.
- Kubis 636 Tropical Delight: umur panen 50-55 hari, produksi 2 kg/tanaman.
- Kubis 637 Summit: umur panen 50 hari, produksi 1,5 kg/tanaman.
2. Kubis merah (B.o. var. capitata L. f. rubra.)
Krop berbentuk bulat kompak berwarna merah keunguan dan permukaan luar daun tertutup lapisan. Beberapa varietas yang mempunyai nilai ekonomi:
- Ruby perfection: warna krop merah cerah, umur panen 80 hari, produksi 1,6 kg/tanaman.
- Mammoth Red Rock: warna krop merah tua keunguan dan keras, umur panen 100 hari, produksi 3,4 kg/tanaman.
- Rubby ball: warna krop merah tua, umur panen 65 hari, produksi 1,5 kg/tanaman.
- Res Acre: warna krop merah tua, umur panen 76 hari, produksi 1,8 kg/tanaman.
3. Kubis Savoy (B.o. var. sabauda L.)
Ciri-ciri memiliki daun keriting berbentuk babad/perut daging sapi, berwarna hijau, krop berbentuk bermacam-macam, bulat dan kerucut. Kubis ini biasa disebut kubis keriting/kubis babat. Contoh beberapa varietas komersial:
- Perfection Drumhead: umur panen 90 hari, produksi 2,7-3,2 kg/tanaman.
- Vorbote: produksi 1-2 kg/tanaman.
- Savoy King Hybrid: umur panen 80 hari, produksi 1,8 kg/tanaman.
- Savoy Ace: umur panen 80 hari, produksi 1,6 kg/tanaman.
- Langedijk Early Yellow: produksi 1,5-2 kg/tanaman.
- Langedijk Storage Yellow: produksi 2-3 kg/tanaman.
Selain jenis kubis diatas masih terdapat jenis lain yang cukup komersial yaitu kubis brussel (B.o. var. gemmivera DC.).
1.4. Manfaat Tanaman
Sebagai bahan pangan untuk keperluan masakan seperti sup, sayur lodeh, pecel, lotek dan lain-lain atau dimakan langsung (lalapan) bersama menu lain. Manfaat lain dapat dibuat produk makanan instan seperti mie, makanan ringan dan makanan cepat saji lainnya.
Di bidang kesehatan, dapat digunakan sebagai pencegah dan obat sariawan, penyakit beri-beri, penyakit Xerophthalmia, radang syaraf, lemahnya otot-otot, luka-luka pada tepi mulut, dermatitis bibir menjadi merah dan radang lidah, kandungan niacin dapat mencegah penyakit palagra dan pembentuk tulang dan gigi.
II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
1. Pengaruh angin dirasakan pada evaporasi lahan dan evapotranspirasi tanaman. Laju angin yang tinggi dalam waktu lama (kontinyu) mengakibatkan keseimbangan kandungan air antara tanah dan udara terganggu, tanah kering dan keras, penguraian bahan-bahan organik terhambat, unsur hara berkurang dan menimbulkan racun akibat tidak ada oksidasi gas-gas beracun di dalam tanah.
2. Disebutkan jumlah curah hujan 80% dari jumlah normal (30 cm) memberikan hasil rata-rata 12% dibawah rata-rata normal.
3. Stadia pembibitan memerlukan intensitas cahaya lemah sehingga memerlukan naungan untuk mencegah cahaya matahari langsung yang membahayakan pertumbuhan bibit. Sedangkan pada stadia pertumbuhan diperlukan intensitas cahaya yang kuat, sehingga tidak membutuhkan naungan.
4. Tanaman kubis dapat hidup pada suhu udara 10-24 derajat C dengan suhu optimum 17 derajat C. Untuk waktu singkat, kebanyakan varietas kubis tahan dingin (minus 6-10 derajatC), tetapi untuk waktu lama, kubis akan rusak kecuali kubis berdaun kecil (<3> 9), merupakan racun bagi akar-akar tanaman.
4. Kandungan air tanah yang baik adalah pada kandungan air tersedia, yaitu pF antara 2,5-4. Dengan demikian lahan tanaman kol memerlukan pengairan yang cukup baik (irigasi maupun drainase).
2.3. Ketinggian Tempat
Tanaman kubis dapat tumbuh optimal pada ketinggian 200-2000 m dpl. Untuk varietas dataran tinggi, dapat tumbuh baik pada ketinggian 1000-2000 m dpl.
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Persyaratan Benih
Benih yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a) Benih utuh, artinya tidak luka atau tidak cacat.
b) Benih harus bebas hama dan penyakit.
c) Benih harus murni, artinya tidak tercampur dengan biji-biji atau benih lain serta bersih dari kotoran.
d) Benih diambil dari jenis yang unggul atau stek yang sehat.
e) Mempunyai daya kecambah 80%.
f) Benih yang baik akan tenggelam bila direndam dalam air.
3.1.2. Penyiapan Benih
Penyiapan benih dimaksudkan untuk mempercepat perkecambahan benih dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit. Cara-cara penyiapan adalah sebagai berikut:
1. Sterilisasi benih, dengan merendam benih dalam larutan fungisida dengan dosis yang dianjurkan atau dengan merendam benih dalam air panas 55 derajat C selama 15-30 menit.
2. Penyeleksian benih, dengan merendam biji dalam air, dimana benih yang baik akan tenggelam.
3. Rendam benih selama ± 12 jam atau sampai benih terlihat pecah agar benih cepat berkecambah.
Kebutuhan benih per hektar tergantung varietas dan jarak tanam, umumnya dibutuhkan 300 gram/ha.
Benih harus disemai dan dibumbun sebelum dipindahtanam ke lapangan. Penyemaian dapat dilakukan di bedengan atau langsung di bumbung (koker). Bumbung dapat dibuat dari daun pisang, kertas makanan berplastik atau polybag kecil.
3.1.3. Teknik Penyemaian Benih
Hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi persemaian antara lain: (1) tanah tidak mengandung hama dan penyakit atau faktor-faktor lain yang merugikan; (2) lokasi mendapat penyinaran cahaya matahari cukup; dan (3) dekat dengan sumber air bersih.
Penyemaian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Penyemaian di bedengan
Sebelum bedengan dibuat, lahan diolah sedalam 30 cm lalu dibuat bedengan selebar 110-120 cm memanjang dari arah utara ke selatan. Tambahkan ayakan pupuk kandang halus dan campurkan dengan tanah dengan perbandingan 1:2 atau 1:1. Bedengan dinaungi dengan naungan plastik, jerami atau daun-daunan setinggi 1,25-1,50 m di sisi timur dan 0,8-1,0 m di sisi Barat. Penyemaian dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu disebar merata di atas bedengan atau disebar di dalam barisan sedalam 0,2-1,0 cm. Cara pertama memerlukan benih yang lebih sedikit daripada cara kedua. Sekitar 2 minggu setelah semai, bibit dipindahkan ke dalam bumbung. Bumbung dapat dibuat dari daun pisang atau kertas berplastik dengan ukuran diameter 4-5 cm dan tinggi 5 cm atau berupa polibag 7x10 cm yang memiliki dua lubang kecil di kedua sisi bagian bawahnya. Bumbung diisi media campuran ayakan pupuk kandang matang dan tanah halus dengan perbandingan 1:2 atau 1:1. Keuntungannya adalah hemat waktu, permukaan petak semaian sempit dan jumlah benih persatuan luas banyak. Sedangkan kelemahannya adalah penggunaan benih banyak, penyiangan gulma sukar, memerlukan tenaga kerja terampil terutama saat pemindahan bibit ke lahan.
2. Penyemaian di bumbung (koker atau polybag)
Dengan cara ini, satu per satu benih dimasukkan ke dalam bumbung yang dibuat dengan cara seperti di atas. Bumbung dapat terbuat dari daun pisang atau daun kelapa dengan ukuran diameter dan tinggi 5 cm atau dengan polybag kecil yang berukuran 7-8 cm x 10 cm. Media penyemaian adalah campuran tanah halus dengan pupuk kandang (2:1) sebanyak 90%. Sebaiknya media semai disterilkan dahulu dengan mengkukus media semai pada suhu udara 55-100 derajat C selama 30-60 menit atau dengan menyiramkan larutan formalin 4%, ditutup lembar plastik (24 jam), lalu diangin-anginkan. Cara lain dengan mencampurkan media semai dengan zat fumigan Basamid-G (40-60 gram/m2) sedalam 10-15 cm, disiram air sampai basah dan ditutup dengan lembaran plastik (5 hari), lalu plastik dibuka, dan lahan diangin-anginkan (10-15 hari).
3. Kombinasi cara a) dan b).
Pertama benih disebar di petak persemain, setelah berumur 4-5 hari (berdaun 3-4 helai), dipindahkan ke dalam bumbung.
4. Penanaman langsung.
Yaitu dengan menanam benih langsung ke lahan. Kelebihannya adalah waktu, biaya dan tenaga lebih hemat, tetapi kelemahannya adalah perawatan yang lebih intensif.
Lahan persemaian dapat diganti dengan kotak persemaian dan dilakukan dengan cara sebagai berikut;
1. Buat medium terdiri dari tanah, pasir dan pupuk kandang (1:1:1).
2. Buat kotak persemaian kayu (50-60 cm x 30-40 cm x 15-20 cm) dan lubangi dasar kotak untuk drainase.
3. Masukkan medium kedalam kotak dengan tebalan 10-15 cm.
3.1.4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
1. Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari tergantung cuaca.
2. Pengatur naungan persemaian dibuka setiap pagi hingga pukul 10.00 dan sore mulai pukul 15.00. Diluar waktu diatas, cahaya matahari terlalu panas dan kurang menguntungkan bagi bibit.
3. Penyiangan dilakukan terhadap tanaman lain yang dianggap mengganggu pertumbuhan bibit, dilakukan dengan mencabuti rumput-rumput/gulma lainnya yang tumbuh disela-sela tanaman pokok.
4. Dilakukan pemupukan larutan urea dengan konsentrasi 0,5 gram/liter dan penyemprotan pestisida ½ dosis jika diperlukan.
5. Hama yang menyerang biji yang belum tumbuh dan tanaman muda adalah semut, siput, bekicot, ulat tritip, ulat pucuk, molusca dan cendawan. Sedangkan, penyakit adalah penyakit layu. Pencegahan dan pemberantasan digunakan Insektisida dan fungisida seperti Furadan 3 G, Antrocol, Dithane, Hostathion dan lain-lain.
3.1.5. Pemindahan Bibit
Pemindahan dilakukan bila bibit telah mempunyai perakaran yang kuat. Bibit dari benih/biji siap ditanam setelah berumur 6 minggu atau telah berdaun 5-6 helai, sedangkan bibit dari stek dapat dipindahkan setelah berumur 28 hari.
Pemindahan bibit dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Sistem cabut, bibit dicabut dengan hati-hati agar tidak merusak akar. Bila disemai pada polybag, pengambilan bibit dilakukan dengan cara membalikkan polybag dengan batang bibit dijepit antara telunjuk dan jari tengah, kemudian polybag ditepuk-tepuk perlahan hingga bibit keluar. Bila bibit disemai pada bumbung daun pisang atau daun kelapa, bibit dapat ditanam bersama bumbungnya.
2. Sistem putaran, caranya tanah disiram dan bibit dengan diambil beserta tanahnya 2,5-3 cm dari batang dengan kedalaman 5 cm.
3.2. Pengolahan Media Tanam
3.2.1. Persiapan
Lahan sebaiknya bukan lahan bekas ditanami tanaman famili Cruciferae lainnya. Dilakukan pengukuran pH dan analisa tanah tentang kandungan bahan organiknya untuk mengetahui kecocokan lahan ditanami kol/kubis.
Tanah digemburkan dan dibalik dengan dicangkul atau dibajak sedalam 40-50 cm, dibersihkan dari sisa-sisa tanaman dan diberi pupuk dasar. Setelah itu, dibiarkan terkena sinar matahari selama 1-2 minggu untuk memberi kesempatan oksidasi gas-gas beracun dan membunuh sumber-sumber patogen.
3.2.2. Pembuatan Bedengan
Bedengan dibuat dengan arah Timur-Barat, lebar 80-100 cm, tinggi 35 cm dan panjang tergantung keadaan lahan. Lebar parit antar bedengan ± 40 cm (parit pembuangan air PPA 60 cm) dengan kedalaman 30 cm (PPA 60 cm).
3.2.3. Pengapuran
Fungsi untuk menaikkan pH tanah dan mencegah kekurangan unsur hara makro maupun mikro. Dosis pengapuran bergantung kisaran angka pH-nya, umumnya antara 1-2 ton kapur per hektar. Jenis kapur yag digunakan antara lain: Captan (calcit) dan Dolomit.
3.2.4. Pemupukan
Bedengan siap tanam diberi pupuk dasar yang banyak mengandung unsur Nitrogen dan Kalium, yaitu Za, Urea, TSP dan KCl masing-masing 250 kg, serta Borax atau Borate 10-20 kg/ha. Pemberian pupuk kandang dilakukan sebanyak 0,5 kg per tanaman.
3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Penentuan Pola Tanam
Penentuan pola tanam tanaman sangat bergantung kesuburan tanah dan varietas tanaman dengan jarak tanam 50 x 50 cm. Pola penanaman ada dua yaitu larikan dan teratur seperti pola bujur sangkar; pola segi tiga sama sisi; pola segi empat dan pola barisan (barisan tunggal dan barisan ganda). Pola segi tiga sama sisi dan bujur sangkar tergolong baik karena didapatkan jumlah tanaman lebih banyak.
3.3.2. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat sesuai dengan jarak tanam sedalam cangkul atau dengan ukuran garis tengan 20-25 cm sedalam 10-15 cm.
3.3.3. Cara Penanaman
1. Waktu tanam yang baik yaitu pada pagi hari antara pukul 06.00-10.00 atau sore hari antara pukul 15.00-17.00, karena pengaruh sinar matahari dan temperatur tidak terlalu tinggi.
2. Pilih bibit yang segar dan sehat (tidak terserang penyakit ataupun hama).
3. Bila bibit disemai pada bumbung daun pisang atau, ditanam bersama dengan bumbungnya, bila disemai pada polybag plastik maka dikeluarkan terlebih dahulu dengan cara membalikkan polybag dengan batang bibit dijepit antara telunjuk dan jari tengah, kemudian polybag ditepuk-tepuk secara perlahan hingga bibit keluar dari polybag.
4. Bila disemai dalam bedengan diambil dengan solet (sistem putaran), caranya menggambil bibit beserta tanahnya sekitar 2,5-3 cm dari batang sedalam 5 cm.
5. Bibit segera ditanam pada lubang dengan memberi tanah halus sedikit-demi sedikit dan tekan tanah perlahan agar benih berdiri tegak.
6. Siram bibit dengan air sampai basah benar.
3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penjarangan dan Penyulaman
Penjarangan dilakukan saat pemindahan bibit ke lahan, yaitu saat bibit berumur 6 minggu atau telah berdaun 5-6 helai (semaian biji) atau berumur 28 hari (semaian stek). Bila bibit disemai pada bumbung maka penjarangan tidak dilakukan. Sedangkan penyulaman hampir tidak dilakukan karena umur tanaman yang pendek (2-3 bulan).
3.4.2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan bersama dengan penggemburan tanah sebelum pemupukan atau bila terdapat tumbuhan lain yang mengganggu pertumbuhan tanaman. Penyiangan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam karena dapat merusak sistem perakaran tanaman, bahkan pada akhir penanaman sebaiknya tidak dilakukan.
3.4.3. Pembubunan
Pembumbunan dilakukan bersama penyiangan dengan mengangkat tanah yang ada pada saluran antar bedengan ke arah bedengan berfungsi untuk menjaga kedalaman parit dan ketinggian bedeng dan meningkatkan kegemburan tanah.
3.4.4. Perempelan
Perempelan cabang/tunas-tunas samping dilakukan seawal mungkin untuk menjaga tanaman induk agar pertumbuhan sesuai harapan, sehingga zat makanan terkonsentrasi pada pembentukan bunga seoptimal mungkin.
3.4.5. Pemupukan
Pemupukan susulan I dilakukan dengan urea 1gram per tanaman melingkari tanaman dengan jarak 3 cm disaat tanaman kelihatan hidup untuk mendorong pertumbuhan. Pemupukan kedua dilakukan pada umur 10-14 hari dengan dosis 3-5 gram, dengan jarak 7-8 cm. Pemupukan ketiga dilakukan pada umur 3-4 minggu dengan dosis 5 gram pada jarak 7-8 cm. Bila pertumbuhan belum optimal dapat dilakukan pemupukan lagi pada umur 8 minggu.
3.4.6. Pengairan dan Penyiraman
Waktu pemberian air sebaiknya dilakukan pada pagi dan sore hari. Pada musim kemarau, pengairan perlu dilakukan 1-2 hari sekali, terutama pada fase awal pertumbuhan dan pembentukan bunga.
3.4.7. Waktu Penyemprotan Pestisida
Untuk pencegahan, penyemprotan dilakukan sebelum hama menyerang tanaman atau secara rutin 1-2 minggu sekali dengan dosis ringan. Untuk penanggulangan, penyemprotan dilakukan sedini mungkin dengan dosis tepat, agar hama dapat segera ditanggulangi.
Jenis dan dosis pestisida yang digunakan dalam menanggulangi hama sangat beragam tergantung dengan hama yang dikendalikan dan tingkat populasi hama tersebut.
3.4.8. Pemeliharaan Lain
Hal-hal yang penting dalam merawat tanaman adalah:
1. Menghindari pelukaan pada tanaman karena luka pada tanaman merupakan salah satu jalan yang efektif dalam penularan penyakit dan sangat disukai oleh hama.
2. Dalam pemupukan, pupuk tidak boleh mengenai tanaman dan harus selalu diikuti dengan penyiraman.
3.5. Hama dan Penyakit
3.5.1. Hama
1. Ulat Plutella (Plutella xylostella L.)
Dikenal dengan nama ulat tritip, Diamond-black moth, hileud keremeng, ama bodas, ama karancang (Sunda), omo kapes, kupu klawu (Jawa). Ciri: (1) siklus hidup 2-3 minggu tergantung temperatur udara; (2) ngengat betina panjang 1,25 cm berwarna kelabu, mempunyai tiga buah titik kuning pada sayap depan, meletakkan telur dibagian bawah permukaan daun sebanyak 50 butir dalam waktu 24 jam; (3) telurnya berbentuk oval, ukuran 0,6-0,3 mm, berwarna hijau kekuningan, berkilau, lembek dan menetas ± 3 hari; (4) larva Plutella berwarna hijau, panjang 8 mm, lebar 1 mm, mengalami 4 instar yang berlangsung selama 12 hari, ngengat kecil berwarna coklat keabu-abuan; (5) ngengat aktif dimalam hari, sedangkan siang hari bersembunyi dibawah dibawah sisa-sisa tanaman, atau hinggap dibawah permukaan daun bawah. Gejala: (1) biasanya menyerang pada musim kemarau; (2) daun berlubang-lubang terdapat bercak-bercak putih seperti jendela yang menerawang dan tinggal urat-urat daunnya saja; (3) umumnya menyerang tanaman muda, tetapi kadang-kadang merusak tanaman yang sedang membentuk bunga. Pengendalian: (1) mekanis: mengumpulkan ulat-ulat dan telurnya, kemudian dihancurkan. (2) Kultur teknik: pergiliran tanaman (rotasi) dengan tanaman yang bukan famili Cruciferae; pola tumpang sari brocolli dengan tomat, bawang daun, dan jagung; dengan tanaman perangkap (trap crop) seperti Rape/Brassica campestris ssp. Oleifera Metg. (3) Hayati/biologi: menggunakan musuh alami, yaitu parasitoid (Cotesia plutella Kurdj, Diadegma semiclausum, Diadegma eucerophaga) ataupun predatornya. (4) Sex pheromone : adalah "Ugratas Ungu" dari Taiwan. Bentuk sex pheromone ini seperti benang nilon berwarna ungu sepanjang ± 8 cm. Cara penggunaan : Ugratas ungu dimasukkan botol bekas agua, kemudian dipasang dilahan perkebunan pada posisi lebih tinggi dari tanaman. Daya tahan ugratas terpasang ±3 minggu, dan tiap hektar kebun memerlukan 5-10 buah perangkap.(5) Kimiawi: menyemprotkan insektisida selektif berbahan aktif Baccilus thuringiensis seperti Dipel WP, Bactospeine WP, Florbac FC atau Thuricide HP pada konsentrasi 0,1-0,2%, Agrimec 18 FC, pada konsentrasi 1-2 cc/liter.
2. Ulat croci (Crocidolomia binotalis Zeller)
Ulat croci disebut hileud bocok (sunda). Ciri: (1) siklus hidup 22-32 hari, tergantung suhu udara; (2) ulat berwarna hijau, pada punggung terdapat garis hijau muda dan perut kuning, panjang ulat 18 mm, berkepompong di dalam tanah dan telur diletakkan dibawah daun secara berkelompok berbentuk pipih menyerupai genteng rumah; (3) menyerang tanaman yang sedang membentuk bunga. Pengendalian: sama dengan ulat Prutella, parasitoid yang paling cocok adalah Inareolata sp.
3. Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn)
Ulat tanah disebut ulat taneuh, hileud orok (Sunda) atau uler lettung (Jawa).
Ciri: (1) siklus hidup 6-8 minggu; (2) kupu-kupu ataupun ulatnya aktif pada senja dan malam hari, pada siang hari bersembunyi di bawah daun (kupu-kupu) dan permukaan tanah (ulat). Gejala: memotong titik tumbuh atau pangkal batang tanaman, sehingga tanaman muda rebah dan pada siang hari tampak layu. Pengendalian: (1) mekanis: mencabut ulat-ulat tanah dan membunuhnya; (2) kultur teknis: pembersihan kebun dari rerumputan atau sisa-sisa tanaman yang dijadikan tempat bertelur hama tanah; (3) kimiawi: dengan umpan beracun dan semprotan insektisida.Campuran dari 125-250 gram Dipertex 95 SL, 10 kg dedak, 0,5-1,0 kg gula merah dan 10 liter air untuk tanaman seluas 0,25-0,5 hektar. Umpan tersebut disebarkan disekeliling tanaman pada senja dan malam hari. dapat juga disemprotkan insektisida Dursban 20 EC 1 cc/liter air. Waktu penyemprotan sehabis tanam dan dapat diulang 1-2 kali seminggu.
4. Kutu daun (Aphis brassicae)
Hidup berkelompok dibawah daun atau massa bunga (curd), berwarna hijau diliputi semacam tepung berlilin. Gejala: menyerang tanaman dengan menghisap cairan selnya, sehingga menyebabkan daun menguning dan massa bunga berbintik-bintik tampak kotor. Menyerang hebat dimusim kemarau. Pengendalian: menyemprotkan insektisida ORTHENE 75 SP atau Hostathion 40 EC 1-2 cc/liter air.
5. Ulat daun
Misalnya ulat jengkal (Trichoplusiana sp., Chrysodeixis chalcites Esp., Chrysodeixis orichalcea L.) dan ulat grayuk (Spodoptera sp. S. litura), Ciri: (1) Ulat-ulat jengkal (Trichoplusiana sp.): Cara berjalannya aneh dan melipat dua bila merangkak. Panjang 4 cm, berwarna hijau pucat dan berpita warna muda pada tiap sisi badan. Kupu-kupu ulat jengkal berwarna coklat keabu-abuan dan berbintik-bintik berwarna perak pada setiap sayap depannya, telur berwarna putih kehijau-hijauan diletakkan di bawah daun dan menetas dalam 3-20 hari. (2) Chrysodzeixis chalcites Esp. dan Chrysodeixis orichalcea L.: Berwarna gelap dan terdapat bintik-bintik keemasan berbentuk "Y" pada sayap depan. Telur berukuran kecil berwarna keputih-putihan, diletakkan secara tunggal ataupun berkelompok. Larva berwarna hijau bergaris-garis putih di sisinya dan jalannya menjengkal. (3) Ulat-ulat grayak (S. litura): Ciri khas memiliki bintik-bintik segitiga berwarna hitam dan bergaris kekuning-kuningan pada sisinya dengan siklus hidup 30-61 hari. Kupu-kupunya berwarna agak gelap dengan garis agak putih pada sayap depan. Telurnya berjumlah 25-500 butir diletakkan secara berkelompok di atas tanaman dan ditutup dengan bulu-bulu. Gejala: daun rusak, berlubang-lubang atau kadang kala tinggal urat-urat daunnya saja. Pengendalian: (1) mengatur pola tanam; (2) menjaga kebersihan kebun; (3) penyemprotan insektisida seperti Orthene 75 SP 1 cc/liter air, Hostathion 1-2 cc/liter air, Curacron 500 EC atau Decis 2,5 EC; (4) khusus untuk ulat grayak dapat digunakan sex pheromena (Ugratas Merah); (5) bila terjadi serangan Spodoptera exiqua dapat digunakan Ugratas Biru.
6. Bangsa siput
Bangsa siput yang biasa menyerang antara lain: (1) Achtina fulica Fer., yaitu siput yang mempunyai cangkang atau rumah, dikenal dengan bekicot; (2) Vaginula bleekeri Keferst, yaitu siput yang tidak bercangkang, warna keabu-abuan; (3) Parmarion pupilaris Humb, yaitu siput yang tidak bercangkang berwarna coklat kekuningan. Gejala: menyerang daun terutama saat baru ditanam dikebun. Pengendalian: dengan menyemprotkan racun Helisida atau dengan dikumpulkan lalu dihancurkan dengan garam atau untuk makanan ternak.
7. Cengkerik dan gangsir (Gryllus mitratus dan Brachytrypes portentosus).
Gejala: menyerang daun muda (memotong) pada malam hari; terdapat banyak lubang di dalam tanah. Pengendalian: dengan insektisida atau menangkap dengan menyirami lubang dengan air agar hama keluar.
8. Orong-orong.
Hidup dalam tanah terutama yang lembab dan basah. Bagian yang diserang adalah sistem perakaran tanaman. Gejala: pertumbuhan terhambat dan daun menguning. Pengendalian: pemberian insektisida ke liang.
3.5.2. Penyakit
1. Busuk hitam (Xanthomonas campestris Dows.)
Penyebab: bakteri, dan merupakan patogen tular benih (seed borne), dan dapat dengan mudah menular ketanah atau ke tanaman sehat lainnya. Gejala: (1) tanaman semai rebah (damping off), karena infeksi awal terjadi pada kotiledon, kemudian menjalar keseluruh tanaman secara sistematik; (2) bercak coklat kehitam-hitaman pada daun, batang, tangkai, bunga maupun massa bunga yang diserang; (3) gejala khas daun kuning kecoklat-coklatan berbentuk huruf "V", lalu mengering. Batang atau massa bunga yang terserang menjadi busuk berwarna hitam atau coklat, sehingga kurang layak dipanen. Pengendalian: (1) memberikan perlakuan pada benih seperti telah dijelaskan pada poin pembibitan sub poin penyiapan benih; (2) pembersihan kebun dari tanaman inang alternatif; (3) rotasi tanaman selama ± 3 tahun dengan tanaman tidak sefamili.
2. Busuk lunak (Erwinia carotovora Holland.)
Penyebab: bakteri yang mengakibatkan busuk lunak pada tanaman sewaktu masih di kebun hingga pasca panen dan dalam penyimpanan. Gejala: (1) luka pada pangkal bunga yang hampir siap panen; (2) luka akar tanaman scara mekanis, serangga atau organisme lain; (3) luka saat panen; (4) penanganan atau pengepakan yang kurang baik. Pengendalian: (1) Pra panen: membersihkan sisa-sisa tanaman pada lahan yang akan ditanami; menghindari kerusakan tanaman oleh serangga pengerek atau sewaktu pemeliharaan tanaman; menghindari bertanam kubis-kubisan pada musim hujan di daerah basis penyakit busuk lunak. (2) Pasca panen: menghindari luka mekanis atau gigitan serangga menjelang panen; menyimpan hasil panen dalam keadaan kering, atau kalau dicuci dengan air bersih, harus dikeringkan terlebih dahulu sebelum disimpan; berhati-hati dalam membawa atau mengangkut hasil panen ketempat penyimpanan untuk mencegah luka atau memar; menyimpan hasil ditempat sejuk dan mempunyai sirkulasi udara baik.
3. Akar bengkak atau akar pekuk (Plasmodiophora brassicae Wor.)
Penyebab: cendawan Plasmodiophora brassicae. Gejala: (1) pada siang hari atau cuaca panas, tanaman tampak, tetapi pada malam atau pagi hari daun tampak segar kembali; (2) pertumbuhan terlambat, tanaman kerdil dan tidak mampu membentuk bunga bahkan dapat mati; (3) akar bengkak dan terjadi bercak-bercak hitam. Pengendalian: (1) memberi perlakuan pada benih seperti poin penyiapan benih; (2) menyemai benih di tempat yang bebas wabah penyakit; (3) melakukan sterilisasi media semai ataupun tanah kebun dengan Besamid-G 40-60 gram/m2 untuk arel pembibitan atau 60 gram/m2untuk kebun; (4) melakukan pengapuran untuk menaikkan pH; (5) mencabut tanaman yang terserang penyakit; (6) pergiliran atau rotasi tanaman dengan jenis yang tidak sefamili
4. Bercak hitam (Alternaria sp.)
Penyebab: cendawan Alternaria brassica dan Alternaria brassicicola. Gejala: (1) bercak-bercak berwarna coklat muda atau tua bergaris konsentris pada daun; (2) menyerang akar, pangkal batang, batang maupun bagian lain. Pengendalian: (1) menanam benih yang sehat; (2) perlakuan benih seperti pada poin penyiapan benih.
5. Busuk lunak berair
Penyebab: cendawan Sclerotinia scelerotiorumI, menyerang batang dan daun terutama pada luka-luka tanaman akibat kerusakan mekanis dan dapat menyebar melalui biji dan spora. Gejala: (1) pertumbuhan terhambat, membusuk lalu mati; (2) bila menyerang batang, maka daun akan menguning, layu dan rontok; (3) bila menyerang daun, maka daun akan membusuk dan berlendir; (4) gejala lain terdapat rumbai-rumbai cendawan yang berwarna putih dan lama-kelamaan menjadi hitam. Pengendalian: (1) gunakan biji sehat dan rotasi tanaman dengan tanaman yang tidak sejenis. (2) pemberantasan dengan insektisida.
6. Semai roboh (dumping off)
Penyebab: cendawan Rhizitonia sp. dan Phytium sp. Gejala: (1) bercak-bercak kebasahan pada pangkal batang atau hipokotil; (2) pangkal batang busuk sehingga menyebabkan batang rebah dan mudah putus; (3) menyerang tanaman di semaian, tetapi dapat pula menyerang tanaman di lahan. Pengendalian: perlakuan benih sebelum ditanam, sterilisasi media semaian dan rotasi tanaman dengan jenis selain kubis-kubisan.
7. Penyakit Fisiologis
Penyebab: Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) disebut penyakit fisiologis. Kekurangan Nitrogen: bunga kecil-kecil seperti kancing atau disebut "Botoning". Kelebihan Nitrogen warna bunga kelabu dan berukuran kecil. Kekurangan Kalium massa bunga tidak kompak (kurang padat) dan ukurannya mengecil. Kelebihan Kalium tumbuh kerdil dan bunganya kecil. Pengendalian: dengan pemupukan yang berimbang.
3.6. Panen
3.6.1. Ciri dan Umur Panen
Umur masak petik atau panen tanaman kubis tergantung pada varietasnya, berumur pendek (genjah) dan berumur panjang (dalam).
a) Premium Flat Dutch: umur panen 100 hari, produksi 4,5 kg/tanaman.
b) Early Flat Dutch: umur panen 83 hari, produksi 2,4-2,7 kg/tanaman.
c) O-S Cross: umur panen 80 hari, produksi 2 kg/tanaman.
d) Surehead: umur panen 93 hari, produksi 3-4,5 kg/tanaman.
e) Globe Master: umur panen 75 hari, produksi 2-2,5 kg/tanaman.
f) Emerald Cross Hybrid: umur panen 45 hari, produksi 1.2 kg/tanaman.
g) Copenhagen Market: umur panen 72 hari, produksi 1.8-2 kg/tanaman.
h) K-K Cros: umur panen 58 hari, produksi 1,6 kg/tanaman.
i) Green Cup: umur panen 73 hari, produksi 1,5 kg/tanaman.
j) Ecarliana: umur panen 60 hari, produksi 1 kg/tanaman.
Ciri-ciri kemasakan kubis adalah sebagai berikut:
a) Krop kubis mengeras dengan cara menekan krop kubis.
b) Daun berwarna hijau mengkilap.
c) Daun paling luar sudah layu.
d) Besar krop kubis telah terlihat maksimal.
3.6.2. Cara Panen
Pemetikan yang kurang baik akan menimbulkan kerusakan mekanis yang menyebabkan krop kubis terinfeksi patogen sehingga mudah pembusukan. Langkah-langkah dalam memetik kubis:
a) Pilih kubis yang telah tua dan siap dipetik.
b) Petik kubis dengan menggunakan pisau yang tajam dan bersih. Pemotongan dilakukan pada bagianpangkal batang kubis.
c) Urutan pemetikan adalah dimulai dengan kubis yang sehat baru kemudian dilakukan pemetika pada kubis yang telah terkena infeksi patogen.
3.6.3. Periode Panen
Broccoli merupakan tanaman sekali panen, sehingga periode panen sama dengan periode tanam.
3.6.4. Prakiraan Produksi
Produksi kubis bergantung dengan varietas. Secara umum per tanaman menghasilkan 0,75-4 Kg, daerah tadah hujan dengan pemeliharaan semi intensif 25-35 ton per hektar dan dengan pemeliharan intensif 85 ton per hektar.
3.7. Pascapanen
3.7.1. Pengumpulan
Setelah dipetik, kubis dikumpulkan pada tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung agar laju respirasi berkurang sehingga didapatkan kubis yang tinggi kwalitas dan kwantitasnya. Pengumpulan dilakukan dengan hati-hati dan jangan ditumpuk dan dilempar-lempar.
3.7.2. Penyortiran dan Penggolongan
Penyortiran untuk memisahkan krop kubis baik dan bermutu dari yang kurang baik atau rusak, seperti retak, lecet dan kerusakan lainnya.
Penggolongan bertujuan untuk mengolongkan krop ke dalam mutu kelas I, kelas II dan seterusnya berdasarkan jumlah daun pembungkus krop, keseragaman bentuk, keseragaman ukuran, kepadatan krop, kadar kotoran maksimum, kecacatan kubis maksimum dan panjang batang kubis maksimum.
a) Jumlah daun pembungkus: mutu I=4 helai; mutu II=4 helai.
b) Homoginetas bentuk: mutu I=seragam; mutu II=seragam.
c) Homogenitas ukuran: mutu I=seragam; mutu II=seragam.
d) Kepadatan krop: mutu I=padat; mutu II=kurang padat.
e) Kadar kotoran maksimum: mutu I=2,5%; mutu II=2,5%.
f) Kubis cacat maksimum: mutu I=5%; mutu II=10%.
g) Panjang batang kubis maksimum: mutu I=2,5 cm; mutu II=2,5 cm.
3.7.3. Penyimpanan
Penyimpanan kubis harus memperhatikan varietas kubis, suhu, kelembaban dan kadar air. Pada suhu 32-35 derajat F dan kelembaban udara 92-95%, kubis dapat disimpan 4-6 bulan (kubis kadar air tinggi) dan 12 bulan (kubis kadar air rendah) dengan kehilangan berat sebesar 10%.
3.7.4. Pengemasan dan Pengangkutan
Pengemasan dilakukan dengan plastik polyethylene dan dalam pengangkutan kemasan perlu dimasukkan ke dalam kotak atau peti kayu (field boxes) dengan kapasitas 25-30 kg/peti.
IV. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
4.1. Gambaran Peluang Agribisnis
Melihat banyaknya manfaat kubis dalam kesehatan bagi masyarakat, dan ditunjang harga yang murah, maka potensi pasar untuk kubis sangat terbuka. Peluang pasar komoditi ini tidak hanya terbatas didalam negeri, namun juga telah menjangkau ke beberapa negara lain seperti taiwan, Malaysia, Hongkong, Singapura, Jepang, Jerman dan lain-lain. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan volume ekspor kubis dari 16.107 ton dengan nilai US$ 218.000 pada tahun 1987 hingga mencapai 28.625 ton (US$3.867.028) pada tahun 1991(Biro Pusat Statistik, 1991).
Melihat kenyataan diatas, dapat diperkirakan bahwa akan terjadi peningkatan permintaan terhadap komoditi ini dari tahun ke tahun, apalagi jika melihat kenyataan peningkatan jumlah penduduk dunia, sehingga peluang pasar komoditi ini masih sangat besar.
Tetapi kondisi perekonomian seperti sekarang ini membuat pengembangan komoditi ini terganggu bahkan menurun. Hal ini terjadi karena meningkatnya biaya produksi akibat meningkatnya harga pupuk dan pestisida dan terjadinya over produksi yang tidak diikuti dengan upaya untuk mempertahankan kondisi komoditi untuk sasaran ekspor.
Dari analisis budidaya tampak jelas keuntungan yang diraih sangat besar (1994), pada kondisi sekarang terjadi penurunan keuntungan yang cukup besar (bandingkan data tahun 1994 dengan perkiraan 1999). Kondisi ini membuat banyak petani meninggalkan komoditi ini. Tetapi pada kondisi normal komoditi ini sangan komersial.
V. STANDAR PRODUKSI
5.1. Ruang Lingkup
Standar ini meliputi syarat mutu, cara pengujian mutu, cara pengambilan contoh dan cara pengemasan kol/kubis.
5.2. Diskripsi
Standar mutu kubis/kol tercantum pada Standar Nasional Indonesia SNI 01-317-19921.
5.3. Klasifikasi dan Standar Mutu
a) Jumlah daun pembungkus: mutu I=4 helai; mutu II=4 helai.
b) Keseragaman bentuk: mutu I=seragam; mutu II=seragam.
c) Keseragaman ukuran: mutu I=seragam; mutu II=seragam.
d) Kepadatan: mutu I=padat; mutu II=kurang padat .
e) Warna: mutu I=hijau ; mutu II=agak kuning.
f) Kadar kotoran maksimum: mutu I=2,5 %; mutu II=2,5 %.
g) Kadar cacat maksimum: mutu I=5,0 %; mutu II=10,0 %.
h) Panjang batang kubis maksimum: mutu I=2,5 %; mutu II=2,5 %.
5.4. Pengambilan Contoh
Pengambilan contoh satu partai/lot maksimumn 1000 kemasan. Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan dalam 1 (satu) partai/lot seperti berikut ini.
a) Untuk jumlah kemasan dalam partai 1 sampai 100, jumlah contoh 5.
b) Untuk jumlah kemasan dalam partai 101 sampai 300, jumlah contoh 7.
c) Untuk jumlah kemasan dalam partai 301 sampai 500, jumlah contoh 9.
d) Untuk jumlah kemasan dalam partai 501 sampai 1000, jumlah contoh 10.
5.5. Pengemasan
Kubis disajikan dalam bentuk untuh dan segar dikemas dalam keranjang bambu yang berpengyangga dengan berat netto 10 kg, 5 kg atau 20 kg, atau kotak karton dengan berat netto 10-20 kg.
Pengemasan produk biasanya dilakukan dengan polyetiline yang diberi lubang-lubang kecil. Kemasan krop ini kemudian dimasukkan ke dalam doos karton atau keranjang plastik.
VI. REFERENSI
6.1. Daftar Pustaka
a) Anonymous. 1993. Sayur Komersial. Penebar Swadaya. Jakarta.
b) Arief, Arifin. 1990. Hortikultura. Andy Offset. Yogyakarta.
c) Cahyono, Bambang. 1995. Cara Meningkatkan Budidaya Kubis. D), Pustaka Nusatama. Yogyakarta.
d) Pracaya. 1981. Kol Alis Kubis. Penebar Swadaya. Jakarta.




Sumber:
http://dimasadityaperdana.blogspot.com
 
Toko Pertanian Online Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template